Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Media AS: Ancaman Trump Gagal Tekan Iran, Perjalanan Steve Witkoff Tengah Ditimbang Ulang

POROS PERLAWANAN – Washington kembali tersandung di medan diplomasi. Iran tak gentar, Oman tetap netral, dan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, nyaris gagal terbang.

Dalam sebuah laporan yang dibocorkan ke Washington Post yang dilansir Al Jazeera pada Rabu 9 April, seorang pejabat tinggi Amerika mengakui bahwa negosiasi antara Iran dan AS di Muscat bisa batal total, hanya karena Teheran menolak model pembicaraan langsung yang dimaui Gedung Putih.

“Jika Iran ngotot pada negosiasi tidak langsung, Witkoff mungkin tidak akan pergi ke Oman,” kutip surat kabar itu dari pejabat yang tak disebutkan namanya. Ancaman yang terdengar lebih seperti frustasi yang dibungkus diplomasi.

Oman di Tengah Panggung, Iran Tetap Konsisten

AS rupanya tidak belajar dari sejarah. Setelah bertahun-tahun gagal menundukkan Iran dengan sanksi dan intimidasi, kini mereka mencoba memaksakan format negosiasi sebagai alat dominasi psikologis. Namun Iran bukan boneka meja perundingan. Teheran menegaskan sejak awal: negosiasi hanya berlangsung secara tidak langsung, lewat Muscat.

Keputusan itu bukan soal gaya, tapi strategi. Dengan pengalaman panjang menghadapi pelanggaran dan tipu daya Amerika, dari perjanjian nuklir yang dicabik sepihak, hingga embargo ekonomi brutal, Iran tidak ingin memberi ruang bagi retorika palsu ala “deal-maker” Trump. Muscat dipilih bukan untuk kenyamanan, tapi karena Oman satu-satunya aktor regional yang belum dikorupsi oleh blok kepentingan AS-Israel-UEA.

AS Panik, Netanyahu Dibelit “Kesepakatan”

Hal yang menarik, laporan Washington Post juga menyinggung bahwa pengumuman resmi Trump mengenai “dimulainya perundingan dengan Iran” dimaksudkan bukan hanya sebagai pengantar diplomasi, tapi sebagai alat pengendali atas Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Artinya? Trump bukan hanya ingin menang atas Iran, tapi juga ingin menundukkan Tel Aviv dalam kerangka perhitungan elektoral dan pencitraan pribadi. Karena dalam narasi populis ala Trump, kemenangan tak harus nyata, yang penting cukup bisa dijual ke media.

Namun kegagalan AS memaksakan skema negosiasi langsung hanya memperjelas satu hal: Teheran masih memegang kartu utama. Bahkan sebelum negosiasi dimulai, Iran telah mendikte arah, format, dan tempo pembicaraan. Dan Steve Witkoff? Ia kini hanya pion yang menunggu aba-aba terbang dari arah mana saja.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *