Brigjen Naqdi Soroti Keniscayaan Badai Al-Aqsa 2 dan Peran Vital Basij Muda dalam Membentuk Masa Depan
POROS PERLAWANAN – Dalam Dasa Warsa Majelis Tinggi Basij Siswa yang digelar di Universitas Teknik Sharif, pada Jumat 29 November, Wakil Koordinator IRGC (Pasukan Garda Revolusi Islam), Brigjen Mohammad Reza Naqdi mengutarakan pandangan strategis tentang arah perlawanan regional terhadap Israel. Naqdi menegaskan bahwa dunia sedang bergerak menuju transformasi besar yang akan mengakhiri rezim Zionis, seraya menyoroti Badai Al-Aqsa 2 sebagai babak penting perlawanan tersebut.
Acara yang digelar di Tehran ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Menteri Pendidikan, Alireza Kazemi, dan Ketua Organisasi Basij Siswa, Mojtaba Bastan. Dalam pidatonya, Naqdi memberikan analisis mendalam tentang perkembangan geopolitik Kawasan, kemajuan Iran, dan peran vital generasi muda Basij dalam membentuk masa depan.
Perlawanan sebagai Warisan Revolusi Islam
Naqdi memulai pidatonya dengan menggarisbawahi ajaran spiritual dari para pemimpin Revolusi Islam. “Imam kita mengajarkan bahwa hubungan dengan Ahlulbait (a.s) adalah kekuatan utama kita. Hari ini, dunia telah sadar, dan suara keadilan serta kebebasan terdengar di mana-mana,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa keteguhan bangsa Palestina di Gaza dan rakyat Lebanon merupakan manifestasi nyata dari pengaruh Revolusi Islam. “Kita melihat kebangkitan besar di Kawasan, yang bahkan dalam sejarah para nabi pun tak pernah ada tandingannya,” tambahnya.
Iran sebagai Pusat Kebangkitan Global
Menurut Naqdi, posisi Iran sebagai inspirasi kebangkitan tidak hanya diakui oleh sekutu, tetapi juga oleh musuh. Ia mengutip debat presiden AS di mana nama Iran disebut berulang kali sebagai bukti pengaruh strategis Republik Islam. “Dalam pidato 44 menit di Kongres AS, nama Iran disebut 103 kali. Ini adalah pengakuan bahwa baik teman maupun lawan, semuanya sepakat bahwa Iran adalah sumber kebangkitan ini,” jelasnya.
Kemajuan yang Membanggakan di Tengah Tekanan Global
Dalam laporannya, Naqdi juga menyoroti kemajuan pesat Iran di berbagai bidang, termasuk teknologi militer, kesehatan, dan peran perempuan. Menurutnya, keberhasilan Iran dalam menciptakan drone dan rudal yang diminati dunia menunjukkan kapasitas luar biasa Republik Islam, terutama mengingat masa lalu ketika negara itu bahkan tidak memiliki senjata mortir.
“Harapan hidup rakyat Iran meningkat dari peringkat 143 dunia menjadi 39, mencapai usia rata-rata 77 tahun. Ini adalah hasil dari perlawanan kami terhadap kekuatan besar dunia, di mana kami tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang,” tambahnya.
Naqdi juga menyindir serangan media internasional terhadap Iran, dengan menyebut keberadaan lebih dari 200 saluran satelit dan ribuan platform daring yang didedikasikan untuk mendiskreditkan negara tersebut. “Mereka mencoba menggambarkan Iran secara terbalik, tetapi kemajuan kami adalah bukti nyata dari ketahanan model Revolusi Islam,” tegasnya.
Persiapan Operasi Badai Al-Aqsa 2
Dalam bagian yang paling mencuri perhatian, Naqdi menekankan bahwa perlawanan terhadap Israel tidak boleh bersifat defensif. “Jika perlawanan tidak meluas hingga Tel Aviv, pembantaian rakyat Palestina akan terus berlanjut. Serangan yang dimulai harus diselesaikan hingga akhir,” ujarnya tegas.
Ia menyebut bahwa Operasi Badai Al-Aqsa sebelumnya telah menunjukkan bahwa Perlawanan memiliki kapasitas untuk mengubah keseimbangan kekuasaan di Kawasan. “Kami menunggu Badai Al-Aqsa 2. Generasi muda Basij siap melanjutkan perjuangan, dan misi kami adalah menyelesaikan pekerjaan ini. Zionis yang tinggal di Tanah Pendudukan harus tahu bahwa masa depan mereka lebih buruk daripada apa yang mereka alami setahun terakhir,” tegasnya.
Pendidikan Sebagai Pilar Perlawanan
Sementara itu Menteri Pendidikan, Alireza Kazemi, yang juga berbicara dalam acara ini, menyoroti pentingnya membangun karakter siswa melalui nilai-nilai Basij. Menurutnya, penyebab utama penyimpangan manusia adalah kelalaian, dan pendidikan berbasis spiritualitas adalah solusi untuk mengatasinya.
“Ketika kita berbicara tentang Basij, itu bukan hanya sebuah organisasi, tetapi sebuah cara berpikir. Siswa Basij hari ini akan menjadi pemimpin Basij di masa depan. Inilah fondasi dari keberlanjutan perlawanan,” ujarnya.
Kazemi juga memaparkan rencana Kementeriannya untuk memperkenalkan pendidikan berbasis perlawanan. Ia mengumumkan peluncuran kampanye nasional bertajuk Poros Perlawanan sebagai respons atas krisis di Gaza dan Lebanon. “Ini adalah kewajiban sejarah kita untuk mendidik generasi muda tentang nilai-nilai perlawanan dan kebebasan,” katanya.
Optimisme dan Komitmen
Acara ini ditutup dengan pesan optimisme dari kedua tokoh tersebut. Naqdi menyatakan keyakinannya bahwa kemenangan atas rezim Zionis sudah di depan mata, sementara Kazemi menegaskan bahwa perlawanan tidak hanya militer, tetapi juga budaya dan intelektual.
Generasi muda sebagai ujung tombak perjuangan, keduanya sepakat bahwa masa depan Revolusi Islam dan Kawasan berada dalam jalur yang menjanjikan. “Inilah saatnya untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bangkit sebagai pelopor peradaban baru,” pungkas Naqdi.
