Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Syekh Naim Qasim: Perlawanan Epik Hizbullah Mengguncang Dunia

POROS PERLAWANAN – Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa pejuang Perlawanan siap menghadapi segala bentuk agresi jika perang kembali dipaksakan. Dalam pidato yang disampaikan pada Jumat malam 29 November, ia mengulas perjalanan Perlawanan selama konflik terakhir dan tekad untuk terus melawan rezim Zionis.

Rakyat Lebanon Selatan: Simbol Ketabahan dan Pengorbanan

Syekh Qasim memulai pidatonya dengan menyampaikan penghormatan kepada rakyat selatan Lebanon atas keteguhan mereka menghadapi tekanan perang. “Anda bersabar, berjihad, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sementara anak-anak Anda bertempur tanpa kenal lelah melawan musuh. Semua pengorbanan Anda telah mencatatkan kisah heroik di sejarah Lebanon,” ungkapnya.

Menurutnya, Hizbullah sejak awal tidak menginginkan perang, namun selalu siap menghadapi agresi Israel. “Ketika kami memulai perlawanan, berkali-kali kami tegaskan bahwa kami tidak mencari perang. Namun, jika Israel memaksakan perang kepada kami, kami siap menghadapinya,” tegasnya.

Strategi Gagal Israel

Syekh Qasim membeberkan tujuan Israel dalam melancarkan perang selama 64 hari, yaitu menghancurkan Hizbullah, memaksa eksodus massal warga Lebanon utara, dan menciptakan peta baru Timur Tengah. Namun, ia menekankan bahwa strategi tersebut gagal total.

“Israel berpikir mereka dapat menghancurkan pusat komando dan kapabilitas kami dalam waktu singkat, lalu mencapai tujuannya. Namun, Hizbullah tidak hanya bertahan, tetapi juga berhasil menyerang jauh ke dalam wilayah musuh, memaksa mereka bertahan dan kehilangan inisiatif,” jelasnya.

Ditambahkannya, serangan balasan Hizbullah telah menyebabkan eksodus besar-besaran penduduk Israel. “Jumlah pengungsi di Israel meningkat dari 70 ribu menjadi ratusan ribu orang, menunjukkan kekacauan di pihak mereka,” katanya.

Kekuatan Perlawanan yang Mengejutkan Dunia

Syekh Qasim juga mengungkap bahwa perlawanan Hizbullah yang dianggap “legendaris” tidak hanya membuat dunia terkejut tetapi juga menimbulkan ketakutan di kalangan Militer Israel. “Pengorbanan para pejuang kami mengguncang dunia dan menciptakan rasa putus asa di hati musuh,” katanya.

Ia mengungkap bahwa perang ini memberikan pelajaran besar bagi Hizbullah. “Kami kehilangan banyak orang dalam agresi tanpa preseden ini. Namun, kami juga mencapai kemenangan besar yang melampaui keberhasilan Juli 2006. Kekalahan Israel tidak hanya terlihat di medan perang, tetapi juga di pengakuan mereka sendiri,” tegasnya.

“Kembalinya rakyat Lebanon ke selatan, sementara warga permukiman Israel enggan kembali ke rumah mereka, menjadi bukti nyata dari kekalahan musuh,” tambahnya.

Kesepakatan Gencatan Senjata

Mengenai kesepakatan gencatan senjata, Syekh Qasim menyoroti fokus utama perjanjian tersebut, yakni penarikan total pasukan Israel dari selatan Sungai Litani. Ia juga memuji koordinasi erat antara Hizbullah dan Militer Lebanon, sembari memperingatkan bahwa tidak ada pihak yang dapat mengadu-domba keduanya.

“Hizbullah dan Militer Lebanon berdiri bersama dalam kesatuan visi dan misi. Siapa pun yang berharap terjadi perpecahan di antara kami akan kecewa,” ujarnya.

Penghormatan kepada Para Pahlawan

Syekh Qasim lebih lanjut menyampaikan penghormatan mendalam kepada para syuhada yang telah mengorbankan hidup mereka demi mempertahankan kehormatan dan kedaulatan Lebanon. Ia juga mengapresiasi para pejuang yang terluka, tim medis, pemadam kebakaran, serta rakyat yang kehilangan rumah dan keluarga akibat perang.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang berjuang di berbagai lini: di medan perang, di tim medis, dan di media. Anda semua adalah pahlawan Lebanon,” katanya.

Ia memberikan penghormatan khusus kepada Syahid Sayyid Hasan Nasrallah, yang menurutnya adalah arsitek strategi Hizbullah dalam perang ini, dan kepada Syahid Hasyim Safiuddin yang menjadi simbol keteguhan Perlawanan.

Dukungan Internasional untuk Hizbullah

Syekh Qasim juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Republik Islam Iran atas dukungan mereka. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Garda Revolusi, Presiden, dan rakyat Iran yang selalu mendukung perjuangan kami,” katanya.

Ia juga memberikan penghormatan kepada rakyat dan pemimpin Yaman, khususnya Sayyid Abdul Malik al-Houthi, serta kepada al-Hashd al-Shaabi dan rakyat Irak atas solidaritas mereka.

Membangun Lebanon yang Lebih Baik

Dalam penutup pidatonya, Syekh Qasim berjanji bahwa Hizbullah akan fokus pada proses rekonstruksi Lebanon pascakonflik. “Kami akan membangun Lebanon yang lebih indah dan lebih kuat daripada sebelumnya, seperti yang dijanjikan Syahid Hasan Nasrallah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Hizbullah berkomitmen untuk melanjutkan perlawanan terhadap rezim Zionis dan mendukung perjuangan Palestina dalam segala bentuk. “Kami tidak akan pernah berhenti mendukung Palestina, baik secara langsung maupun tidak langsung,” tegasnya.

Syekh Qasim juga menyampaikan komitmen Hizbullah untuk bekerja sama dengan semua pihak yang ingin membangun Lebanon yang bersatu berdasarkan Kesepakatan Taif. “Rekonsiliasi politik dan stabilitas nasional adalah kunci untuk masa depan Lebanon,” katanya.

Pidato Syekh Naim Qasim menunjukkan bagaimana Hizbullah melihat perang ini sebagai kemenangan strategis, yang memperkuat posisi mereka di Kawasan. Dengan komitmen untuk rekonstruksi dan stabilitas nasional, Hizbullah sekali lagi berupaya mengonsolidasikan dukungan rakyat Lebanon sekaligus mempertahankan peran sentral dalam perjuangan regional melawan penjajah Zionis Israel.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *