Yordania dan Pengkhianatan di Langit Zionis
POROS PERLAWANAN —Jika sejarah pernah punya selera humor, maka Yordania barangkali adalah lelucon yang ditulis dengan tinta basa-basi dan dicetak di atas kertas kompromi.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dibalut semangat patriotik pada Jumat 13 Juni, Angkatan Bersenjata Kerajaan Hashemite dengan bangga mengumumkan telah mencegat 156 drone, 132 rudal balistik, dan 107 MIRV, semuanya milik Iran yang melintasi wilayah udaranya dalam perjalanan menuju Wilayah Pendudukan Israel.
Pernyataan itu dikutip oleh Middle East Eye, seolah menegaskan satu hal, bahwa dalam peta konflik modern, menjaga langit Zionis bisa dibungkus sebagai tugas suci perlindungan nasional.
Tindakan ini diklaim sebagai upaya “melindungi rakyat sipil Yordania dari puing-puing”. Namun kita semua tahu, ini bukan tentang puing-puing. Ini tentang posisi politik yang berdiri di perbatasan, lalu dengan anggun membungkuk ke arah Tel Aviv.
Iran Tak Pernah Menyerang Yordania, Tapi Siapa yang Butuh Fakta?
Tidak ada satu pun laporan kredibel yang menyebutkan bahwa Iran menargetkan Yordania secara langsung. Akan tetapi, netralitas selektif tampaknya lebih nyaman bila dijadikan alasan persekutuan diam-diam.
Drone Iran tidak pernah diarahkan ke Amman, Aqaba, atau kota mana pun di Yordania. Namun rupanya, di era di mana posisi “netral” berarti ‘takut terlihat tidak cukup pro-Barat’, rudal yang lewat pun jadi ancaman, asal bukan rudal Israel.
Hamas: “Iran Membayar Harga Karena Mendukung Palestina”
Tak semua pihak memilih diam menyaksikan absurditas ini. Pada hari yang sama, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengeluarkan pernyataan yang tajam:
“Iran hari ini membayar harga atas posisi teguhnya dalam mendukung Palestina dan perlawanannya, serta atas kepatuhannya pada keputusan nasionalnya yang independen”.
Hamas melanjutkan, “Entitas Zionis adalah musuh utama bangsa, dan pertempuran melawannya adalah pertempuran takdir yang membutuhkan persatuan barisan dan upaya bersama untuk melindungi rakyat kita dari kejahatan dan rencana ekspansionisnya”.
Namun seruan itu tampaknya tak menembus kabin komando di Amman, terhalang radar yang lebih sibuk mengunci target drone Iran ketimbang menghitung jenazah anak-anak di Gaza.
Yordania: Dari Negara Penyangga Menjadi Penyaring Rudal
Dalam versi politik modern, Yordania telah menjelma dari sekadar “negara penyangga” menjadi “negara penyaring rudal”, menyaring apa pun yang bisa membuat penjajah terganggu. Jika ini adalah bentuk “netralitas aktif”, maka kita harus mengakui, bahwa Yordania sedang menyempurnakan seni menjadi musuh dari Perlawanan, tanpa harus menjadi musuh secara terang-terangan.
“Berapa banyak drone Israel yang dibiarkan lewat saat menyerang Gaza? Kemudian, berapa banyak rudal Iran yang langsung ditembak jatuh saat melintasi udara tanpa niat menyerang Yordania?”
Pertanyaan sederhana. Jawaban yang memalukan.
Ketika F-16 Israel menyerbu langit Gaza, tidak ada satu pun sirene peringatan yang berbunyi di Yordania. Tidak ada rudal yang ditembak jatuh. Tidak ada pernyataan “perang udara”. Namun ketika drone Iran terbang melewati langit mereka, dalam rangka membalas agresi Israel, reaksinya cepat, penuh semangat, dan dibungkus dalam jargon “pertahanan negara”.
Pasti Sejarah Akan Mencatat
Ketika Iran menanggapi serangan ilegal Israel dengan presisi balistik, dunia Arab sebagian besar memilih diam. Yordania memilih beraksi, bukan untuk menegur penjajah, tapi untuk memblokir perlawanan.
Maka jika kelak sejarah bertanya: “Di mana Yordania saat Iran berdiri sendirian melawan agresi?” Jawabannya sederhana: di sisi yang salah dari radar pertahanan.
Begitu juga jika ada yang bertanya mengapa Perlawanan kadang lebih memilih sunyi daripada solidaritas, maka biarkan Yordania jadi pelajaran, bahwa dalam perang moral, diam bisa berarti persekongkolan, dan netralitas bisa berarti pengkhianatan.
