Cerita Kenangan Menlu Iran Tentang Syahid Sayyid Nasrallah
POROS PERLAWANAN– Berkenaan dengan peringatan 40 hari gugurnya Sayyid Hasan Nasrallah, Menlu Iran, Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara bercerita soal kenangannya tentang Sekjen Hizbullah tersebut.
“Pertemuan pertama terjadi di tahun 2006 setelah Perang 33 Hari. Saat itu, saya menjabat sebagai Wamenlu. Ketika perang berakhir, Sayyid berkunjung ke Teheran. Saya bertemu dengannya saat itu. Dia menceritakan kisah-kisah tentang perang tersebut. Sayyid orang yang sangat ramah dan pintar bercerita. Pertemuan itu sangat menyenangkan,” tutur Araghchi, diberitakan Tasnim.
Terkait pertemuan kedua, Menlu Iran mengatakan,”Saya bertemu dengannya di tengah-tengah perundingan nuklir. Saya mendapat misi untuk pergi ke Beirut. Saya bersamanya sejak pukul 10 malam hingga 4 pagi. Saya memberi tahu dia tentang detail perundingan.”
“Tempat pertemuan kami berada di tingkat lima sebuah apartemen. Ketika saya naik lift, kawan-kawan Hizbullah memasang sebuah papan di depan kami sebagai penghalang. Ketika saya menanyakan sebabnya, mereka menjawab bahwa ini adalah apartemen. Mereka tidak ingin orang-orang luar melihat siapa yang berada di lift saat pintunya terbuka.”
“Setelah itu, kami pergi ke pinggir perbatasan Tanah Pendudukan. Hizbullah menunjukkan beberapa tempat kepada saya, yang sangat berguna bagi saya. Pertemuan ketiga terjadi tahun lalu saat saya bertemu Sayyid bersama Tuan (Kamal) Kharrazi.”
Tentang kepribadian Syahid Nasrallah, Araghchi mengatakan,”Anda tidak akan pernah merasa asing saat bersama Sayyid. Ia menjawab segala pertanyaan dengan sangat nyaman. Ia memperlakukan Anda dengan sangat baik. Ia benar-benar seorang legenda. Sebagian legenda justru mendatangkan lebih banyak berkah setelah mereka tiada.”
Dalam wawancara tersebut, Araghchi mengirim pesan kepada para musuh Iran dan Perlawanan. “Jangan uji tekad kami. Kami sudah lulus ujian. Jika kalian ingin menguji tekad kami, kalian akan merasakan akibatnya. Ini adalah sebuah pesan yang terus berkumandang. Saya berharap tak seorang pun yang meremehkan kekuatan Iran.”
“Dalam beberapa lawatan saya, sebagian orang berkata bahwa Israel akan menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Saya hanya tertawa. Saya berkata kepada mereka, kami tidak mengimpor fasilitas nuklir, sehingga tidak bakal bersedih ketika fasilitas itu hancur. Kami telah mendapatkan ilmunya dan itu tidak bisa dimusnahkan. Kebijakan rudal Iran adalah ciptaan dan buatan kami sendiri. Andai diserang, kami akan membuatnya kembali. Pihak mediator selalu menyampaikan pesan agar siklus tukar serangan ini harus dihentikan. Pesan ini disampaikan karena mereka tahu bahwa dalam siklus ini, Iran tidak akan kalah,” tandas Araghchi.
