China: Kami Tidak Akan Berlutut di Hadapan Amerika!
POROS PERLAWANAN — Kementerian Luar Negeri Tiongkok merilis video propaganda resmi bertajuk “Kami Tidak Akan Berlutut” di akun media sosial X dan WeChat pada Selasa, 29 April. Video berdurasi singkat itu menegaskan bahwa Beijing tidak akan pernah tunduk atau berkompromi dalam menghadapi tekanan ekonomi dan tarif dari Amerika Serikat.
Disertai teks dwibahasa (Tionghoa–Inggris), video tersebut menyatakan bahwa menyerah pada hegemoni hanya akan memperparah krisis global. AS dituduh tidak hanya melancarkan perang tarif terhadap Tiongkok, tetapi juga memaksakan kebijakan koersif seperti “sanksi 90 hari” untuk membatasi kemitraan ekonomi negara-negara lain dengan Beijing.
“Kebijakan-kebijakan ini ibarat mata badai: tampak tenang di luar, namun menyimpan jebakan ekonomi yang bisa mengguncang kestabilan dunia,” bunyi narasi dalam video.
Beijing juga mengingatkan sejarah gelap intervensi ekonomi AS pada dekade 1980–1990-an, termasuk tekanan terhadap Toshiba Jepang dengan tuduhan dumping semikonduktor dan dampak Perjanjian Plaza yang menyebabkan krisis ekonomi berkepanjangan di Jepang.
“Amerika juga membubarkan perusahaan Alstom milik Prancis melalui tekanan sistematis, merampas salah satu kebanggaan industri nasional Prancis,” lanjut video itu.
Dengan alunan musik dramatis yang kian menggelegar, narator menyampaikan pesan utama: “Berkompromi bukan jalan keselamatan. Berlutut hanya memperkuat hegemon. Tiongkok tidak akan mundur, karena kami percaya: kerja sama sejati hanya lahir dari perjuangan sejati.”
Pesan tersebut juga menyerukan solidaritas global: “Jika negara-negara kecil bersuara, maka tirani para hegemon akan terbendung, dan keadilan internasional dapat ditegakkan.”
Video itu mengecam dominasi aturan global oleh Washington, seraya menyebut AS sebagai aktor yang hanya menguasai kurang dari seperlima volume perdagangan dunia namun bersikeras “menulis ulang aturan demi kepentingan sendiri”. Amerika digambarkan sebagai “perahu kecil yang limbung di tengah gelombang persatuan dunia”.
Menutup narasinya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa AS akan terus mengingkari janji-janji, sementara Tiongkok akan tetap maju: “Ke mana pun angin bertiup, bahkan dalam bayang awan gelap, kami akan melangkah dengan damai. Akan selalu ada yang memegang obor, menerangi jalan ke masa depan. Jika setiap negara berdiri tegak, maka tembok hegemoni akan runtuh.”
Pernyataan ini hadir di tengah menguatnya narasi konfrontatif Beijing terhadap Washington. Dalam rapat Komite Politik Partai Komunis Tiongkok pada 25 April lalu, perang dagang secara resmi disebut sebagai bagian dari “perjuangan internasional”, sebuah eskalasi diplomatik yang mempertegas posisi Tiongkok dalam panggung geopolitik global.
