China, Rusia, dan Belarus Serukan Pembebasan Segera Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Istrinya
POROS PERLAWANAN — Pemerintah China menyerukan kepada Amerika Serikat agar segera membebaskan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, serta menghentikan segala upaya penggulingan Pemerintahan Venezuela.
Seruan serupa disampaikan Rusia dan Belarus, yang menekankan perlunya pembebasan segera Maduro dan pemulihannya sebagai Kepala Pemerintahan di Caracas.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan sikap tersebut disampaikan menyusul percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan mitranya dari Belarus, Maxim Ryzhkov. Dalam pembicaraan itu, kedua pihak menilai penahanan Maduro tidak dapat diterima dan menuntut pembebasannya segera tanpa syarat.
Menurut laporan Berita Tasnim pada Minggu 4 Januari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyampaikan keprihatinan serius atas tindakan AS yang “secara paksa mengendalikan Presiden Venezuela dan istrinya serta memindahkan mereka ke luar negeri”.
Juru Bicara tersebut menegaskan bahwa langkah Washington merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip dasar hubungan antarnegara, serta bertentangan dengan tujuan dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok mendesak AS untuk menjamin keselamatan Maduro dan istrinya, segera membebaskan keduanya, menghentikan upaya penggulingan Pemerintah Venezuela, serta menyelesaikan krisis melalui dialog dan negosiasi politik.
Sehari sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump memerintahkan serangan udara besar-besaran ke Caracas dan wilayah lain di Venezuela. Pasukan AS dilaporkan memasuki wilayah negara tersebut, menangkap Presiden Venezuela dan istrinya, lalu membawa mereka ke luar negeri.
Trump kemudian menulis di media sosial bahwa Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dipindahkan, sebelum mengumumkan bahwa keduanya akan dihadapkan ke pengadilan di New York.
Langkah AS ini memicu reaksi luas dari komunitas internasional. Rusia menyebut tindakan tersebut tidak masuk akal, sementara Uni Eropa menyerukan semua pihak menahan diri dan mengambil langkah-langkah deeskalasi guna mendukung transisi kekuasaan yang damai di Venezuela.
Beijing menyatakan keterkejutannya dan mengecam keras tindakan Washington yang menggunakan kekuatan Militer terhadap negara berdaulat serta menargetkan Kepala Negara yang masih menjabat.
Menurut laporan media Venezuela, Maduro sempat bertemu dengan Utusan Khusus Presiden Xi Jinping, Qiu Xiaoqi, bersama perwakilan Tiongkok lainnya di Caracas pada Jumat 2 Januari. Ia dilaporkan ditangkap oleh pasukan khusus AS hanya beberapa jam setelah pertemuan tersebut.
