Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Serangan AS ke Venezuela Jadi Tema Baru Kartunis

POROS PERLAWANAN — Serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dengan cepat memicu gelombang respons di media sosial, khususnya dari para kartunis yang menyindir kebijakan Presiden AS, Donald Trump melalui karya satir dan kritik visual.

Menurut laporan IRNA pada Minggu 4 Januari, berbagai platform media sosial dipenuhi kartun yang mengecam serangan AS ke Venezuela serta penangkapan Maduro yang disebut dilakukan atas perintah langsung Trump. Karya-karya tersebut menyoroti dimensi politik, ekonomi, dan kemanusiaan dari operasi militer tersebut.

Pada Sabtu pagi 3 Januari, pasukan AS melancarkan serangan ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, serta Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira. Serangan ini dilaporkan menyebabkan kematian sejumlah warga sipil. Pemerintah Venezuela menyebut tindakan tersebut sebagai “invasi militer”, menetapkan keadaan darurat nasional, dan meminta pertemuan mendesak Dewan Keamanan PBB.

Sejumlah kartun yang beredar menggambarkan Presiden AS berupaya mencuri minyak Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Narasi ini diperkuat oleh kritik terhadap kehadiran Militer AS yang meningkat di kawasan Karibia dan Pasifik sejak musim panas lalu.

Washington menyatakan bahwa pengerahan tersebut merupakan bagian dari “Operasi Southern Spear”, yang diklaim bertujuan memberantas penyelundupan narkoba. Namun, operasi itu dilaporkan menewaskan puluhan orang, sementara Pemerintah AS sendiri mengakui tidak ada bukti yang menunjukkan kapal-kapal yang menjadi sasaran terlibat dalam perdagangan narkoba. Kartun-kartun yang beredar menilai klaim tersebut sebagai dalih untuk menguasai sumber daya energi Venezuela.

Tak lama setelah serangan, Presiden Trump mengumumkan penangkapan Maduro dan istrinya. Dalam konferensi pers, ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memerintah Venezuela untuk sementara waktu. Dalam pernyataan di Mar-a-Lago, Trump membenarkan tindakan tersebut dengan merujuk pada slogan “Amerika Pertama”, seraya menyebut keinginan AS untuk memiliki “tetangga yang baik”, “stabilitas kawasan”, dan “akses terhadap sumber daya energi”.

Sementara itu, Mahkamah Konstitusi Agung Venezuela memutuskan bahwa Wakil Presiden, Delcy Rodríguez akan menjabat sebagai Presiden Sementara.

Di tingkat internasional, sejumlah negara, termasuk beberapa sekutu AS, menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Iran, Rusia, dan negara-negara lain mengutuk tindakan Washington serta memperingatkan dampaknya terhadap stabilitas regional dan tatanan internasional.

Kantor Juru Bicara PBB mengumumkan bahwa Dewan Keamanan PBB akan menggelar pertemuan darurat pada Senin pagi waktu setempat di New York untuk membahas serangan AS dan penangkapan Presiden Venezuela. Permintaan pertemuan diajukan oleh Venezuela dan Kolombia, serta didukung oleh Rusia dan China sebagai anggota tetap Dewan Keamanan.

Di dalam negeri AS, operasi militer tersebut menuai kritik tajam dari Partai Demokrat dan sejumlah tokoh politik yang mempertanyakan legalitas serangan tersebut, terutama menjelang pemilihan paruh waktu Kongres 2026 dan kontestasi presiden berikutnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *