Cinta, Kerinduan dan Pengorbanan di Ujung Harapan Abu Ali
POROS PERLAWANAN – Di sudut dunia yang jaraknya ribuan kilometer dari gemerlap kota-kota besar, seorang pria duduk diam dalam hening. Matanya menerawang menembus dinding rumahnya yang rapuh, menatap jauh ke batas cakrawala seolah mencari secercah harapan. Di dadanya, bersemayam kerinduan yang begitu kuat hingga menggema dalam setiap detak jantungnya: menghadiri pemakaman Sayyid Hasan Nasrallah di Lebanon.
Namun, impian itu terpisah darinya oleh jurang keterbatasan yang terlalu lebar untuk dijangkau. Hidup telah mengujinya dengan derita dan kemiskinan, tetapi kali ini, rasa rindu menjadi luka paling dalam.
Di tanah Yaman yang tercabik perang dan dililit kemiskinan, pria itu—Abu Ali, seorang penulis dan aktivis media—menumpahkan kisahnya ke dunia maya. Dalam derasnya unggahan bertagar *#انا_من_العهد* (Saya adalah bagian dari janji), tulisannya memancar sebagai jeritan batin yang mengguncang hati siapa pun yang membacanya. Baginya, menghadiri pemakaman sang pemimpin bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan ziarah jiwa—perjalanan menuju sosok yang ia kagumi dan hormati seumur hidupnya. Namun, dunia seolah menutup semua jalan. Biaya perjalanan terlalu mahal, jarak terlalu jauh, dan waktu terus berlari meninggalkan mimpi yang tak terkejar.
Dalam keputusasaan yang bercampur harapan, Abu Ali membuat keputusan yang mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya: menawarkan ginjalnya untuk dijual. Itu bukan pilihan yang lahir dari rasa putus asa, melainkan pengorbanan terakhir demi sebuah pertemuan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Ginjal yang selama ini menjadi bagian dari tubuhnya, kini menjadi taruhan agar ia dapat melangkah di belakang peti jenazah Sayyid Hasan, meneriakkan “Labbaik Ya Nasrallah” di jalanan Dahiya, dan mengusapkan syal Palestina yang ia bawa di pusara pemimpin yang dikaguminya.
Namun, nasib seolah tak mengizinkan. Waktu melaju tanpa menoleh, dan sebelum ia berhasil menjual ginjalnya, kesempatan itu lenyap. Dunia tak memberi ruang bagi mimpi seorang pria setengah baya yang hanya ingin mempersembahkan penghormatan terakhirnya.
Dalam cuitan yang penuh luka, ia menulis:
“Wahai Sayyid Hasan, aku tak mampu bertemu denganmu, baik ketika engkau hidup maupun saat pemakamanmu. Demi Dia yang memegang nyawaku, impian hidupku hanyalah mencium kening sucimu. Maafkan aku. Ini di luar kemampuanku, wahai junjunganku dan cahaya mataku..”
Setiap kata dalam tulisan itu seperti pisau yang mengiris hati. Kata-kata sederhana namun penuh emosi itu membuktikan bahwa cinta sejati mampu melampaui batas logika dan materi. Di dunia yang sering diukur dengan kekayaan dan kekuasaan, Abu Ali mengajarkan bahwa ada nilai-nilai yang tak ternilai harganya: cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.
Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin terdengar sebagai tragedi. Namun, di balik kesedihan itu tersembunyi kemenangan batin yang tak ternilai. Sebab cinta yang tulus tak akan pernah sia-sia. Meski Abu Ali tak pernah melangkah di jalanan Dahiya, suaranya telah menembus batas jarak dan waktu. Meskipun tangannya tak sempat menyentuh makam Sayyid Hasan, doanya telah melayang melampaui langit.
Pada akhirnya, ini bukan sekadar kisah seorang pria miskin Yaman yang gagal mencapai impiannya. Ini adalah bukti betapa kuatnya ikatan batin antara manusia dan sosok yang ia cintai.
Tentang keberanian memberikan segalanya demi sebuah pertemuan yang mungkin tak pernah terjadi. Namun, barangkali di alam yang lebih abadi—di tempat di mana jarak dan waktu tak lagi menjadi penghalang—Abu Ali akan berdiri di sisi Sayyid Hasan, dengan senyuman yang selama ini ia rindukan. Karena cinta yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya, bahkan ketika dunia seolah menutup semua pintunya. [PP/MT]
