Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Dari Anggapan Keruntuhan Hingga Fakta Lapangan: Kembalinya Hizbullah dengan Gagah Kejutkan Musuh

POROS PERLAWANAN – Berbagai penyergapan dan serangan rudal Hizbullah yang sangat akurat telah menunjukkan bahwa setiap meter wilayah Lebanon Selatan telah berubah menjadi lapangan tembak yang siap pakai, dan setiap upaya Israel untuk maju akan berujung pada perang yang mahal dan berkepanjangan.

Dilaporkan Fars, berbagai kejutan terungkap satu demi satu di front Lebanon akhir-akhir ini. Fakta bahwa Hizbullah ikut terlibat dalam perang saja sudah mengejutkan banyak pihak (bahkan beberapa pihak kawan), apalagi penghancuran puluhan tank, penyergapan yang tepat sasaran, dan serangan rudal ke Tel Aviv.

Militer Israel, yang semula mengira bahwa Hizbullah, setelah pertempuran sebelumnya, gugurnya para komandan, serta pembantaian melalui pager dan walkie-talkie, telah tamat atau berada di ambang kehancuran, kini mendapati diri mereka berhadapan dengan perwujudan baru dari perlawanan; sebuah perlawanan yang lebih gigih, kuat, dan bertekad yang telah menimbulkan kerusakan parah pada mereka di wilayah kurang dari 6 kilometer dari perbatasan Lebanon-Palestina. Ini saja sudah merupakan pencapaian yang luar biasa.

Dalam hal ini, mantan Kepala Penelitian di Mossad dan analis keamanan senior Israel, Sima Shine dalam podcast Haaretz pada 24 Maret secara eksplisit menyatakan bahwa “kekuatan dan kemampuan Hizbullah saat memasuki perang telah ‘mengejutkan’ bagi Israel”.

“Mereka memiliki kemampuan yang lebih besar daripada yang pernah kita lihat sebelumnya,” ujar Shine.

Pada Rabu, Perlawanan Islam Lebanon saja telah melancarkan 95 serangan terhadap posisi-posisi Militer Israel di wilayah perbatasan dan jauh di dalam Wilayah Palestina yang Diduduki. Pada Kamis, Hizbullah melancarkan 90 serangan. Operasi-operasi tersebut mencakup serangan rudal, drone, dan artileri yang menargetkan konsentrasi pasukan, pusat komando, sistem pertahanan, dan infrastruktur di Safed, Nahariya, Kiryat Shmona, Kirmiiel, dan wilayah Galilea. Poros perbatasan al-Qawuzah, al-Tayyibah, al-Naqurah, dan al-Khiyam juga terlibat dalam serangan-serangan ini.

Selama operasi ini, 21 tank Merkava menjadi sasaran pada Rabu dan 19 tank serta kendaraan militer lainnya pada Kamis.

Perlu dicatat, sebelum agresi ini, Israel mengira bahwa wilayah selatan Sungai Litani telah diratakan sehingga pasukan dan tanknya dapat maju, berkat kehancuran yang luas serta keunggulan udara, intelijen, dan tembakannya. Namun, pada kenyataannya, justru di wilayah inilah Israel menghadapi serangan paling parah dan penyergapan militer yang sangat akurat.

Menengok Serangan-serangan Penyergapan Hizbullah

Sebagian besar dan tulang punggung operasi Hizbullah di wilayah perbatasan terdiri dari serangan penyergapan yang dilakukan oleh para pejuang Lebanon. Kini, baik serangan penyergapan skala kecil maupun besar dianggap sebagai taktik utama Hizbullah.

Serangan-serangan ini, yang ditandai dengan kesabaran operasional, tipu daya yang cerdik, ketepatan tembakan, dan koordinasi antara unit pengintaian, tembakan, dan dukungan, terutama unit antitank, menunjukkan bahwa setiap serangan darat Israel di Lebanon Selatan tidak akan menjadi operasi yang sederhana, melainkan upaya yang sangat mahal dan berisiko tinggi.

Serangan-serangan ini juga secara efektif menantang teori “bumi hangus” yang diandalkan Israel, yang menunjukkan bahwa penghancuran lingkungan di desa-desa selatan Lebanon tidak selalu berarti runtuhnya struktur tempur Perlawanan, tetapi justru dapat menjadi faktor yang memfasilitasi perang gerilya dan atrisi.

Signifikansi strategis serangan-serangan ini terletak pada poin ini: operasi tersebut tidak hanya menghancurkan peralatan militer, tetapi juga menargetkan keyakinan komando Militer Israel terhadap kemampuannya untuk bermanuver. Dalam konteks ini, struktur taktik musuh yang didasarkan pada kemajuan mudah ke wilayah selatan telah hancur.

Kini, sebuah perimbangan baru telah terbentuk: setiap meter di Lebanon selatan adalah zona tembak yang telah dipersiapkan sebelumnya, dan setiap upaya untuk mendudukinya akan berujung pada perang atrisi.

Tentang Perburuan Tank-tank Merkava

Tank Merkava dianggap sebagai tulang punggung pasukan lapis baja Israel dan simbol industri militer Rezim tersebut. Dengan desainnya yang unik—termasuk mesin yang dipasang di bagian depan untuk meningkatkan perlindungan awak—tank ini diklaim sebagai salah satu kendaraan lapis baja paling canggih.

Pada varian yang lebih baru, terutama Merkava Mark 4, sistem perlindungan aktif Trophy digunakan; sebuah sistem yang dirancang untuk melawan rudal antitank, namun di medan perang, ia menghadapi tantangan yang semakin besar. Efektivitasnya, terutama terhadap rudal berpemandu modern dan drone bunuh diri, telah dipertanyakan secara serius—hal yang bahkan diakui oleh media Israel.

Fokus yang luas pada penargetan tank-tank ini merupakan bagian dari strategi yang jelas; strategi yang didasarkan pada upaya melemahkan kemampuan lapis baja Israel di wilayah perbatasan. Dengan mengandalkan pendekatan ini, Perlawanan Lebanon berupaya melemahkan alat terpenting Israel untuk agresi darat dan secara drastis meningkatkan biaya untuk merangsek maju.

Dalam hal ini, dari poros Naqoura hingga Qantara, Debel, dan Deir Sryan, pola operasi menunjukkan pembentukan “sabuk api”; sebuah sabuk yang, dengan kombinasi rudal berpemandu presisi dan drone serang, telah menantang keunggulan teknologi Israel.

Sebagaimana disebutkan di awal, keterlibatan Hizbullah dalam pertempuran semacam ini saja sungguh tak terbayangkan bagi Pendudukan. Rezim Zionis tak pernah membayangkan bahwa Hizbullah Lebanon, setelah gugurnya banyak komandan tingkat tinggi mereka dan terutama kini di tengah tekanan politik yang berat dari Rezim pro-Barat di Beirut, akan terlibat dalam konflik berskala sebesar ini.

Serangan rudal terhadap Tel Aviv, Haifa, Acre, seluruh wilayah Galilea, serta serangan rudal terhadap pangkalan militer di dalam Wilayah Palestina yang Diduduki, merupakan aspek lain dari pertempuran ini yang tak terbayangkan bagi orang Israel. Pendudukan hingga saat ini menganggap bahwa dengan masuknya Militer Lebanon ke utara Sungai Litani (setelah perjanjian gencatan senjata) dan pembongkaran banyak pangkalan Hizbullah di bawah pengawasan Militer AS, serangan rudal pada prinsipnya seharusnya tidak lagi menjadi masalah. Namun, para pejuang Hizbullah sekali lagi telah menunjukkan bahwa Lebanon selatan sepenuhnya milik Perlawanan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *