Demi Lindungi Dirinya dari ‘Badai Politik’ Netanyahu Ambil Alih Kendali Seluruh Struktur Keamanan Israel
POROS PERLAWANAN — Tiga pengangkatan penting yang dilakukan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dalam beberapa bulan terakhir dipandang bukan hanya keputusan administratif, melainkan langkah strategis untuk memusatkan kendali atas seluruh arsitektur keamanan Israel di tangan Perdana Menteri. Langkah-langkah ini berlangsung di tengah guncangan internal setelah Operasi Badai Al-Aqsa serta meningkatnya tekanan politik terkait pembentukan komite pencari fakta.
Menurut Kantor Berita Mehr pada Rabu 10 Desember, Netanyahu telah menunjuk Kepala baru Shin Bet, Kepala Mossad, dan Kepala Staf Angkatan Darat dalam rentang waktu berdekatan. Narasi media arus utama Israel menunjukkan bahwa tujuan utama rangkaian penunjukan ini adalah mengonsolidasikan proses pengambilan keputusan keamanan dan menciptakan koordinasi vertikal penuh antara Militer, Intelijen, dan Kantor Perdana Menteri, sebuah langkah yang sekaligus melindungi Netanyahu dari badai politik seperti “kegagalan keamanan melawan Hamas”, skandal “Qatargate”, serta empat dakwaan korupsi yang masih membayangi.
1. Kepala Shin Bet: Ketegangan antara Indepedensi Institusi dan Intervensi Politik
Reuters pada 30 September melaporkan bahwa Kabinet menyetujui pengangkatan Mayor Jenderal David Zini, berlatar belakang Militer, bukan intelijen untuk memimpin Shin Bet menggantikan Ronen Bar. Keputusan itu memicu ketegangan karena Mahkamah Agung sebelumnya menyatakan pemecatan Kepala Shin Bet ilegal. Namun Netanyahu tetap ngotot melangkah dengan dukungan Kabinet.
Mantan pejabat Shin Bet memperingatkan bahwa masuknya figur militer dekat Perdana Menteri akan mengikis independensi institusi dan mendorong politisasi. Banyak analis Israel melihatnya sebagai respons langsung Netanyahu terhadap kritik keras atas kegagalan keamanan Gaza.
2. Kepala Staf Angkatan Darat: Mengunci Loyalitas Struktural
Penunjukan Jenderal Eyal Zamir pada musim panas 2025 menjadi mata rantai kedua konsolidasi. Zamir dikenal sebagai figur tepercaya dalam lingkaran perang Likud dan sekutu dekat Netanyahu.
Tradisi Israel mengandalkan komite independen untuk memilih kandidat petinggi keamanan tingkat atas demi mencegah dominasi politik. Namun dalam putaran terbaru, komite itu cuma diberi kewenangan persetujuan akhir dan kehilangan peran selektifnya. Mantan Kepala Intelijen Militer, Amos Yadlin memperingatkan bahwa sentralisasi seperti ini melemahkan pengawasan negara dan membuka pintu “politisasi informasi strategis”.
3. Kepala Mossad: Loyalitas Personal Mendahului Keahlian Intelijen
Penunjukan Roman Goffman pada 4 Desember sebagai Kepala Mossad oleh Kantor Perdana Menteri dilihat sebagai babak ketiga konsolidasi. Goffman bukan kader intelijen. Dia adalah perwira militer dekat Netanyahu, berlatar nasionalis religius, dan hanya fasih berbahasa Rusia. Haaretz menilai pengangkatannya sebagai contoh “pemberian jabatan atas dasar loyalitas politik”, bukan profesionalisme intelijen.
Secara tradisional, Mossad dipimpin tokoh senior intelijen untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pemerintah dan operasi sensitif luar negeri. Kali ini, pengangkatan figur militer dekatnya menunjukkan upaya menempatkan operasi eksternal Israel di bawah pengawasan langsung Netanyahu.
Makna Strategis: Dari Struktur Polisentris ke Sistem Keamanan Pribadi
Tiga penunjukan ini menandai transisi dari model keamanan polisentris Israel ke struktur kekuasaan terpusat. Pasca-krisis 2023–2025, Netanyahu tampaknya menyimpulkan bahwa kelangsungan politiknya bergantung pada kontrol absolut atas institusi keamanan.
Implikasinya dua arah, keputusan militer bisa menjadi lebih cepat dan koordinasi intelijen lebih erat; namun independensi lembaga, profesionalisme, serta keragaman pertimbangan strategis berpotensi terkikis. Media Ibrani menyebut Israel berada di ambang pembentukan “sistem keamanan pribadi”, dengan keputusan strategis tidak lagi muncul dari lembaga keamanan, tetapi dari Kantor Perdana Menteri.
