Demonstrasi Besar-besaran di Tel Aviv Menentang Kebijakan Netanyahu
POROS PERLAWANAN – Ribuan warga Israel turun ke jalan di Tel Aviv dan sejumlah kota lainnya untuk memprotes kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, khususnya terkait kelanjutan perang di Gaza dan pemecatan kepala Shin Bet (Badan Keamanan Israel), Ronen Bar.
Menurut laporan media Israel, aksi protes ini merupakan salah satu demonstrasi terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Para pengunjuk rasa menyerukan agar Netanyahu segera menghentikan perang, menyetujui kesepakatan pertukaran tahanan, serta membatalkan rencana pemberhentian Ronen Bar.
Jaringan berita Channel 12 Israel melaporkan bahwa demonstrasi yang berlangsung pada Minggu (23/3) melibatkan puluhan ribu warga. Sementara itu, surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa ratusan pengunjuk rasa bergerak menuju kediaman resmi Netanyahu di Yerusalem yang diduduki.
Menurut laporan yang sama, bentrokan antara pengunjuk rasa dan kepolisian Israel pecah di sekitar kediaman Netanyahu. Aparat keamanan berupaya membubarkan massa, sementara para demonstran terus meneriakkan tuntutan agar Netanyahu mundur dan mengakhiri konflik di Gaza.
Dukungan Keluarga Tahanan Israel untuk Demonstrasi
Sebelumnya, Dewan Keluarga Tahanan Israel mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam kebijakan Netanyahu. Mereka menuduhnya telah mengorbankan nyawa para tahanan demi mempertahankan dukungan politik dari mitra koalisinya, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
Dalam pernyataan mereka, keluarga tahanan menyebut Netanyahu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian para sandera dan menyatakan bahwa kebijakannya justru menghancurkan Israel.
“Kami menyerukan kepada seluruh warga Israel untuk turun ke jalan dan menentang Netanyahu. Dia telah membunuh para sandera dan menghancurkan negara ini,” ujar perwakilan keluarga tahanan.
Mereka juga menegaskan bahwa alih-alih mengambil langkah diplomatis untuk membebaskan para sandera, Netanyahu memilih untuk melanjutkan perang. “Bukan Hamas yang membuka pintu neraka bagi para sandera, tetapi Netanyahu sendiri,” tambah mereka.
Krisis Kemanusiaan di Gaza Berlanjut
Sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, serangan militer Israel telah menyebabkan lebih dari 50.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 112.000 lainnya terluka.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan lembaga kemanusiaan Palestina terus mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret guna menghentikan agresi Israel di Jalur Gaza. Namun, hingga saat ini, serangan udara dan operasi militer di wilayah tersebut masih berlanjut tanpa tanda-tanda deeskalasi.
