Detail Rencana Baru Tel Aviv untuk Gencatan Senjata di Gaza
POROS PERLAWANAN – Mengutip dari Farsnews pada Rabu 30 Oktober, Kepala Badan Intelijen Israel, Mossad, mengajukan sebuah proposal gencatan senjata untuk Gaza kepada pihak mediator. Dalam proposal tersebut, pihak Israel menyatakan akan tetap menduduki Gaza, menunda keputusan mengenai penarikan pasukan ke waktu yang belum ditentukan, dan tidak memberikan jaminan kepastian terkait hal tersebut.
Sesuai laporan dari surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, yang dipublikasikan pada Selasa malam, Kepala Mossad David Barnea mengajukan rincian baru dalam negosiasi dengan pihak mediator terkait gencatan senjata di Gaza. Proposal dari Mossad ini mencakup gencatan senjata selama 30 hari di Gaza dan pertukaran tahanan, yaitu kebebasan bagi sejumlah tahanan Palestina sebagai imbalan pembebasan 11 atau 14 warga Israel yang ditahan.
Namun, Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Israel tidak menunjukkan niat untuk mundur atau melepaskan wilayah yang saat ini berada di bawah kendali militer mereka di Gaza. Pada Minggu lalu, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengajukan rencana gencatan senjata selama 48 jam di Gaza, yang mencakup kesepakatan parsial untuk pertukaran sejumlah tahanan.
Saluran berita Israel, Channel 12, melaporkan bahwa proposal ini sempat dibahas dalam rapat Kabinet. Beberapa anggota Kabinet menyatakan dukungan, namun proposal ini ditolak oleh Perdana Menteri Israel dan menteri-menteri berhaluan keras, seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.
Upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata di Gaza telah berlangsung lama, tetapi proposal dari Mesir, Qatar, bahkan Amerika Serikat, hingga kini belum memperoleh persetujuan dari Israel. Sementara itu, militer Israel terus melanjutkan operasi militernya di Gaza.
Menurut Channel 12, dari 11 hingga 14 warga Israel yang akan dibebaskan, sembilan di antaranya adalah wanita dan lansia. Sebagai imbalannya, sejumlah tahanan Palestina akan dibebaskan, namun jumlahnya masih belum dipastikan.
Israel mengeklaim bahwa Hamas akan menerima jaminan terkait penarikan pasukan Israel dari Gaza di masa depan. Namun, isu ini masih menjadi sumber perdebatan. Dilaporkan pula bahwa pasukan Israel akan tetap berada di jalur Philadelphia hingga kesepakatan menyeluruh tercapai.
