Dewan Keamanan PBB Kutuk Pembantaian Warga Alawi di Suriah
POROS PERLAWANAN – Setelah sekian lama bungkam, Dewan Keamanan PBB akhirnya mengeluarkan pernyataan yang mengutuk pembantaian warga Alawi di wilayah pesisir Suriah serta menyerukan kepada otoritas baru Suriah untuk melindungi kehidupan seluruh warga sipil.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Jumat (14/3), Reuters, mengutip sumber-sumber diplomatik, melaporkan bahwa Dewan Keamanan PBB telah mengutuk kekerasan yang meluas di pesisir Suriah. Dewan juga mendesak otoritas sementara Suriah untuk memastikan perlindungan bagi seluruh warga, tanpa memandang etnis atau agama.
Pernyataan ini, yang dirancang oleh Rusia dan Amerika Serikat, akan diadopsi secara resmi pada hari Jumat setelah 15 anggota Dewan Keamanan mengadakan pertemuan tertutup mengenai Suriah pada Senin lalu.
Kekhawatiran atas Kehadiran Kelompok Ekstremis di Suriah
Dalam laporan terpisah, Reuters juga mengungkapkan bahwa perwakilan dari tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Cina, dan Prancis, menyatakan keprihatinan atas keberadaan elemen Salafi non-Suriah di wilayah tersebut.
Pertempuran yang berlangsung selama beberapa hari di pesisir Suriah telah menyebabkan pembantaian warga Alawi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut sumber hak asasi manusia, lebih dari 1.000 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, menjadi korban pembantaian yang dilakukan oleh kelompok di bawah komando Golani.
Pada hari Selasa, Kantor Hak Asasi Manusia PBB melaporkan bahwa seluruh keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak, telah menjadi korban pembunuhan sektarian dalam bentrokan di Tartus dan Latakia.
Pernyataan Resmi Dewan Keamanan PBB
Dalam pernyataannya, Dewan Keamanan PBB menegaskan bahwa otoritas sementara Suriah harus melindungi semua warga tanpa diskriminasi etnis atau agama. Selain itu, dewan juga menegaskan bahwa penguasa sementara Suriah harus meminta pertanggungjawaban pihak yang melakukan pembantaian massal ini.
Ahmed al-Sharaa (Abu Muhammad al-Jolani), dalam tanggapannya atas pembantaian tersebut, mengklaim bahwa insiden ini merupakan “ancaman terhadap misinya untuk menyatukan negara.” Ia menyatakan bahwa pembantaian itu adalah tindakan oknum tak bertanggung jawab dan berjanji untuk mengambil tindakan terhadap para pelaku.
Dewan Keamanan PBB juga menyambut baik kecaman yang telah dikeluarkan oleh otoritas sementara Suriah atas tindakan kekerasan tersebut dan menyerukan langkah konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Selain itu, pernyataan tersebut menegaskan kembali komitmen terhadap kedaulatan, kemerdekaan, persatuan, dan integritas teritorial Suriah serta menyerukan kepada semua negara untuk menghormati prinsip-prinsip ini dan menghindari tindakan atau intervensi yang dapat semakin mengganggu stabilitas Suriah.
Meskipun tidak ada negara yang secara spesifik disebutkan dalam pernyataan ini, sejak tergulingnya Bashar al-Assad pada 8 Desember, Israel telah melakukan serangan udara besar-besaran terhadap pangkalan militer Suriah, memindahkan pasukannya ke zona demiliterisasi yang diawasi PBB, serta menduduki wilayah yang luas di Suriah.
Menurut Reuters, pernyataan Dewan Keamanan PBB juga menegaskan pentingnya memerangi terorisme di Suriah, dengan mengungkapkan “keprihatinan mendalam terhadap ancaman serius yang ditimbulkan oleh pejuang teroris asing” serta menyerukan Suriah untuk mengambil langkah tegas dalam menghadapi ancaman ini.
