Di Tengah Kebuntuan Diplomatik dan Tekanan Internasional, Retorika Lama Trump ‘Siap Bertemu Pihak Iran’ Kembali Diulang
POROS PERLAWANAN — Di tengah eskalasi ketegangan internasional dan kritik luas terhadap kebijakan luar negeri, Presiden AS, Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Dalam keterangannya kepada media, Trump memaksa untuk bertemu dengan pihak Iran jika dianggap perlu, tanpa menyinggung tindakan agresif Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam tersebut.
Dilansir Mehrnews pada Jumat 4 Juli, pernyataan ini disampaikan Trump usai melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. “Pembicaraan saya dengan Presiden Putin cukup panjang, dan kami membahas sejumlah isu, termasuk Iran dan Ukraina,” ujarnya.
Meski demikian, Trump mengakui bahwa percakapan tersebut “tidak menghasilkan kemajuan signifikan”.
Trump juga menyinggung soal kebijakan tarif dan perang dagang yang menjadi ciri khas masa kepemimpinannya. Ia mengeklaim bahwa pihaknya tengah menyiapkan dua perjanjian baru terkait tarif dan bahkan akan mengirim “sepuluh surat setiap hari” ke sejumlah negara untuk menjelaskan rencana tarif tersebut.
Menanggapi kritik atas penghentian pasokan senjata ke Ukraina, Trump menuduh Pemerintahan Biden telah “mengosongkan persediaan senjata Amerika demi Ukraina”, dan menegaskan bahwa cadangan Militer AS harus dipulihkan.
Terkait Iran, Trump melanjutkan retorika lamanya: “Jika perlu bagi saya untuk bertemu dengan pihak Iran, saya akan melakukannya,” katanya, tanpa menyentuh akar ketegangan yang disebabkan oleh kebijakan sanksi ekstrem dan pembunuhan pejabat tinggi Iran selama masa jabatannya.
Dalam pernyataan terpisah, Trump juga menyinggung kondisi di Gaza, menyatakan bahwa ia ingin “rakyat Gaza aman”, dan menyebut bahwa “mereka telah melalui neraka”. Namun, ia tidak menyinggung keterlibatan AS maupun dukungannya terhadap Israel dalam konflik tersebut.
Sementara itu, analis kebijakan luar negeri terkemuka, Prof. John Mearsheimer, kembali mengkritik keterlibatan penuh AS dalam konflik Gaza. Ia menyebut bahwa dukungan tanpa syarat Washington terhadap Israel menempatkan AS sebagai pihak yang terlibat dalam genosida terhadap warga Palestina.
Pernyataan Trump datang di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel dan sekutunya atas tindakan militer di Gaza serta kebuntuan diplomatik terkait program nuklir dan hak-hak dasar bangsa Iran.
