Donald Trump dan Toilet Diplomasi di Tanah Arab
POROS PERLAWANAN – Ketika Donald Trump menginjakkan kaki di tanah Arab, dunia menyaksikan sebuah drama murahan nan mahal: seorang Presiden Amerika yang terang-terangan menawarkan “cinta” dengan imbalan tebusan triliunan Dolar. Sementara para raja padang pasir menyambutnya bak mesias pasar, berlomba-lomba menyerahkan petrodolar demi senyum, jabat tangan, dan kata-kata manis dari seorang pebisnis yang menjual “perlindungan” ala mafia.
Diplomasi Upeti Gaya Baru
Trump sendiri tidak menyembunyikan motifnya. Dalam perjalanannya ke kawasan Teluk Persia pada Selasa 14 Mei itu, ia menegaskan bahwa datang bukan sebagai Kepala Negara superpower dengan agenda geopolitik, melainkan sebagai seorang pengusaha yang hendak “mengambil uang” dari kantong para pemimpin Arab. Bukan sembarang uang: lebih dari $3,2 triliun berhasil ia pungut dari tiga negara kaya minyak yang selama ini bergantung pada payung militer Washington; Arab Saudi ($600 miliar), Qatar ($1,2 triliun), dan Uni Emirat Arab ($1,4 triliun). Angka yang dikompilasi dari kesepakatan senjata, investasi infrastruktur, dan kerja sama ekonomi selama satu dekade, sebagian besar ditandatangani tanpa kontrol publik.
Dalam video pidatonya, Trump bahkan menyatakan dengan kebanggaan patologis: “Saya berjabat tangan dengan lebih banyak orang dalam perjalanan ini daripada yang bisa dibayangkan dilakukan manusia… Mereka haus akan cinta, dan saya memberi mereka cinta.” Cinta, dalam bahasa Trump, rupanya bernilai ratusan miliar Dolar.
Dari Sapi Perah ke Mitra Strategis?
Ironi ini semakin telanjang ketika kita ingat bahwa pada masa jabatan pertamanya, Trump menyebut para pemimpin Arab sebagai “sapi perah”. Kini, seolah mengukuhkan status mereka, ia kembali memerah mereka sambil menjanjikan “kehangatan diplomatik”. Bahkan dalam pertemuan dengan Mohammed bin Zayed (Raja UEA), ia berujar dengan gaya bos perusahaan: “Kami akan memperlakukan Anda sebagaimana mestinya dengan luar biasa. Anda adalah pria yang luar biasa dan merupakan kehormatan besar bagi kami untuk bekerja sama.”
Toilet Diplomasi
Namun di balik senyuman palsu dan pelukan dingin, penghinaan terhadap dunia Arab mengalir deras dari jantung Washington. Salah satu bentuk penghinaan paling gamblang datang dari Senator John Kennedy. Saat diwawancarai oleh Fox News soal Qatar, ia menyatakan, “Saya memercayai Qatar seperti saya memercayai toilet pinggir jalan.” Kalimat vulgar ini bukan sekadar lelucon buruk; ia adalah cermin dari cara pandang elite Amerika terhadap para sekutu Arabnya: alat, bukan mitra; sapi perah, bukan manusia merdeka.
Kartun, Kritik, dan Kehormatan yang Dijual
Media Barat pun tak semuanya bungkam. Beberapa jurnalis menyindir bahwa Trump hanya memikirkan uang dan tidak peduli terhadap realitas geopolitik Kawasan. Namun yang lebih pedas datang dari para seniman dan aktivis dunia maya. Kartunis asal Yaman, Kamal Sharaf menggambar para pemimpin Arab sebagai sapi-sapi gemuk yang sedang diperah oleh Trump. Gambar lain menunjukkan Trump menunggangi unta-unta penuh kantong Dolar, tertawa puas di atas padang pasir kehinaan. Kartun-kartun itu viral bukan karena lucu, tapi karena nyata bahwa Trump memegang ember Dolar, sapi-sapi Arab menunduk diam, dan dunia tertawa di atas ladang kehormatan yang dibeli murah.
Cinta Berbayar dan Martabat Dicicil
Lalu, bagaimana dengan dunia Arab? Selama mereka rela menjadi sapi perahan demi mempertahankan singgasana, selama itu pula mereka akan terus diproduksi, dieksploitasi, lalu disembelih saat tak lagi bernilai. Poros sejarah tak akan berputar ke arah yang benar sebelum rakyatnya mengguncang takhta dengan kesadaran. Sebab bangsa yang menukar martabat demi senyum penguasa tiran, akan dibalas sejarah dengan gelak tawa perlawanan.
Donald Trump telah menunjukkan bahwa dalam konstelasi politik global, loyalitas bukanlah prinsip, melainkan komoditas. Kelak, sejarah akan mencatat bahwa yang tertawa terakhir bukanlah para penguasa itu, melainkan mereka yang selama ini diperas, dibungkam, dan ditindas. [PP/MT]
