Capai Kesepakatan dengan Pemerintah Suriah, Tetua Druze Ikrarkan Kelompoknya ‘Bagian Tak Terpisahkan dari Tanah Air’
POROS PERLAWANAN – Para tetua agama dan pemuka masyarakat Druze di Provinsi Sweida menegaskan kembali komitmen mereka terhadap persatuan Suriah, menolak segala bentuk separatisme, dan mengumumkan tercapainya kesepakatan damai dengan rezim Jolani yang menguasai Damaskus.
Menurut laporan Tasnim International News Agency, kesepakatan awal dicapai pada Kamis malam (01/5), dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh gubernur dari wilayah pedesaan Damaskus, Sweida, dan Quneitra, bersama sejumlah tokoh masyarakat. Berdasarkan pertemuan tersebut, disepakati untuk mengadakan gencatan senjata di wilayah Jaramana dan Ashrafiya Sahnaya, pinggiran Damaskus yang sempat dilanda ketegangan.
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan kemudian, para tetua suku Druze menegaskan sikap nasionalis mereka dan mengecam segala upaya untuk memecah belah Suriah. Mereka menekankan pentingnya menjaga keutuhan nasional, menghindari pengkhianatan serta provokasi sektarian, dan mendukung penguatan peran institusi negara di wilayah mereka.
“Kami berdiri di atas prinsip-prinsip nasional, identitas Suriah, dan nilai-nilai Islam. Kami adalah bagian tak terpisahkan dari tanah air Suriah yang bersatu. Suriah adalah kehormatan kami, dan menjadi warga Suriah adalah martabat kami. Patriotisme adalah bagian dari iman kami. Kami menolak disintegrasi dan separatisme dalam bentuk apa pun,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pernyataan itu juga memuat sejumlah tuntutan penting, antara lain:
1. Pengaktifan kembali peran Kementerian Dalam Negeri dan lembaga peradilan di Provinsi Sweida dengan mengandalkan putra-putra daerah.
2. Penegasan bahwa menjamin keamanan jalan penghubung Sweida–Damaskus adalah tanggung jawab utama pemerintah.
3. Penciptaan stabilitas dan perdamaian di seluruh wilayah Suriah.
Stabilisasi Keamanan dan Penyerahan Senjata Berat
Sejalan dengan kesepakatan tersebut, Direktorat Keamanan Umum Suriah mengumumkan bahwa mereka telah menjalin kesepakatan dengan para pemuka kota Jaramana untuk penyerahan senjata berat dan peningkatan kehadiran aparat keamanan publik. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret memperkuat stabilitas dan mencegah infiltrasi kelompok-kelompok bersenjata di wilayah pinggiran Damaskus.
Di provinsi tetangga, Daraa, sumber keamanan melaporkan pengerahan pasukan tambahan di perbatasan administratif dengan Sweida guna memastikan stabilitas kawasan dan mencegah eskalasi antarwilayah.
Ancaman Israel dan Upaya Destabilisasi
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengeluarkan pernyataan mengancam terhadap Ahmed al-Sharaa, alias Mohammed Jolani, atas apa yang disebutnya sebagai “serangan berkelanjutan terhadap komunitas Druze.” Ia memperingatkan bahwa Tel Aviv tidak akan tinggal diam dan akan merespons dengan “sangat keras” jika situasi tidak berubah.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya kecurigaan bahwa Israel tengah berupaya mengeksploitasi dinamika internal Suriah untuk menciptakan instabilitas sektarian, terutama di wilayah selatan negara itu. Tokoh politik Lebanon Walid Jumblatt sebelumnya juga menuding Israel mencoba menyulut pemberontakan di Suriah melalui manipulasi etno-sektarian.
