Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Sesalkan Keterlibatan Militer Inggris, Telegraph: Siapa Pun yang Berperang di Yaman Akan Menjadi Pecundang

POROS PERLAWANAN – Surat kabar The Telegraph mengkritik keras keterlibatan militer Inggris dalam serangan udara terhadap Yaman, memperingatkan bahwa sejarah telah menunjukkan siapa pun yang mencoba berperang di negara tersebut akhirnya hanya akan menuai kekalahan dan ketidakstabilan.

Dalam laporan analitis yang dirilis pada Rabu (30/4), The Telegraph menyoroti partisipasi jet tempur Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dalam operasi udara terbaru terhadap target-target di Yaman, yang dilakukan sebagai bagian dari koordinasi dengan Amerika Serikat. Laporan itu menyebut tindakan tersebut sebagai “pengulangan kesalahan klasik Barat di Timur Tengah.”

“Apa sebenarnya tujuan dari serangan ini?” tanya The Telegraph secara retoris, seraya mempertanyakan motif strategis di balik intervensi militer tersebut.

Mengulas sejarah panjang intervensi asing di Yaman, The Telegraph mengingatkan bahwa Mesir pernah mengalami kegagalan dalam intervensinya pada 1960-an, perang yang kemudian dikenal sebagai “Vietnam-nya Mesir.” Demikian pula, Arab Saudi hingga kini masih menghadapi krisis kemanusiaan besar dan tekanan internasional akibat keterlibatannya dalam konflik yang sama.

“Kita bukan Mesir ataupun Arab Saudi. Namun, apakah Inggris benar-benar bisa memenangkan perang di Yaman? Secara teori mungkin saja, tetapi secara praktis, hal itu nyaris mustahil,” tulis The Telegraph.

Laporan tersebut juga mengkritik ketergantungan negara-negara Barat pada serangan udara yang dianggap mudah dilancarkan namun jarang menghasilkan hasil jangka panjang yang stabil. Sebagai contoh, serangan udara AS di Irak hanya mampu menghentikan laju ISIS, namun kemenangan lapangan justru diraih oleh pasukan darat milisi Syiah yang didukung Iran. Di Afghanistan, peningkatan serangan udara oleh NATO dan AS tidak mampu mencegah Taliban kembali berkuasa.

“Menembakkan beberapa rudal memang mudah, bahkan mungkin memberikan rasa puas sesaat,” lanjut laporan itu. “Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apa rencana jangka panjang dari semua ini? Amerika pada akhirnya selalu menarik diri dari perang-perang gagal seperti ini. Jadi, mengapa Inggris kembali ikut naik ke kereta yang jelas-jelas menuju kegagalan?”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *