Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Duh, Gara-gara Trump, Ratusan Ilmuwan AS Pertimbangkan Eksodus Massal Tinggalkan Negeri Paman Sam

POROS PERLAWANAN – Sebuah survei terbaru yang dirilis pada Kamis 3 April oleh Nature mengungkapkan bahwa mayoritas ilmuwan di Amerika Serikat tengah mempertimbangkan untuk meninggalkan negara tersebut. Laporan ini menyoroti kekhawatiran komunitas akademik atas kebijakan sains Pemerintahan Presiden Donald Trump, yang dinilai berdampak besar terhadap dunia penelitian.

Dalam artikel bertajuk “Take Nature’s poll: How will Trump’s policies affect US science?”, disebutkan bahwa hanya sepuluh minggu setelah Trump kembali menduduki Gedung Putih, lanskap ilmiah di AS telah mengalami perubahan signifikan. Pemerintah diketahui telah menutup sejumlah program riset, membatasi penelitian di berbagai bidang seperti perubahan iklim dan pandemi COVID-19, serta memangkas jumlah pegawai Federal—termasuk ilmuwan. Selain itu, terdapat upaya untuk memperketat kontrol terhadap institusi pendidikan tinggi dan universitas.

Presiden dan pejabat tinggi di berbagai lembaga riset juga dikabarkan berencana melakukan pemangkasan tajam terhadap anggaran penelitian dan melanjutkan kebijakan pemutusan hubungan kerja di instansi pemerintah. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa dana riset pemerintah akan dialihkan ke sektor-sektor yang dianggap lebih prioritas oleh administrasi saat ini.

Hasil Survei: Gelombang Potensial Eksodus Ilmuwan

Survei yang melibatkan 1.200 ilmuwan ini menunjukkan bahwa sekitar 75 persen responden—setara dengan 900 orang—mengaku tengah mempertimbangkan opsi untuk beremigrasi. Eropa dan Kanada muncul sebagai tujuan utama para peneliti yang ingin meninggalkan AS.

Tren ini paling menonjol di kalangan ilmuwan muda:

– Dari 690 peneliti pascadoktoral, sebanyak 548 orang menyatakan keinginan untuk pindah ke luar negeri.
– Dari 340 mahasiswa doktoral, 255 orang juga mengaku mempertimbangkan hal serupa.

Akar Masalah: Kebijakan yang Mengikis Dunia Riset

Sejumlah kebijakan Pemerintahan Trump dinilai sebagai pemicu utama potensi eksodus ini. Di antaranya:

– Pemotongan besar-besaran anggaran riset Federal.
– Penghentian dukungan pendanaan untuk proyek-proyek ilmiah strategis.

Pandangan Pakar: Risiko Brain Drain Semakin Nyata

Para pakar menilai situasi ini bisa melemahkan posisi Amerika Serikat sebagai pusat inovasi global.

“Brain drain akan mempercepat pergeseran dominasi sains global ke Tiongkok dan Uni Eropa,” ujar Prof. Linda Williams dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Dengan situasi ini, masa depan sains di Amerika tampaknya menghadapi tantangan besar yang tak hanya bersifat teknis, tetapi juga politis dan strategis.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *