Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Game Changer di Timur Tengah, Upaya Licik AS-Israel Lumpuhkan Hizbullah Tanpa Perang Terbuka

POROS PERLAWANAN – Tekanan terhadap Lebanon mencapai titik didih menyusul desakan AS-Israel untuk memaksa pelucutan senjata Hizbullah sekaligus membuka negosiasi langsung Beirut-Tel Aviv—sebuah skenario yang disebut para analis sebagai “paradoks geopolitik” di Kawasan.

Mengutip laporan harian Ma’ariv berbahasa Ibrani pada Jumat 4 April, sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk utusan khusus untuk Timur Tengah, disebut tengah menekan Pemerintah Lebanon untuk segera memulai dialog langsung dengan Israel. Syarat utama dari rencana ini adalah pelucutan total senjata Hizbullah—sebuah tuntutan yang memicu ketegangan internal dan eksternal.

“Persamaan baru sedang ditulis. Status quo pasca-7 Oktober tidak akan bertahan,” tegas PM Israel Benyamin Netanyahu, merujuk pada serangan Israel di selatan Beirut yang memicu kekhawatiran eskalasi.

Pernyataan tersebut muncul setelah serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, yang memperdalam kecemasan publik Lebanon terkait eskalasi militer terbaru.

Diplomasi Tekanan

Wakil Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Morgan Ortagus, dijadwalkan mengunjungi Beirut dalam beberapa hari ke depan. Ia akan bertemu dengan sejumlah tokoh penting Lebanon seperti Panglima Militer Joseph Aoun, Ketua Parlemen Nabih Berri, dan Ketua Mahkamah Agung Nawaf Salam.

Menurut sumber diplomatik, kunjungan ini akan membawa pesan langsung dari Washington yang menetapkan pelucutan senjata Hizbullah sebagai syarat utama untuk membuka akses bantuan dan pembahasan masa depan Lebanon.

Ortagus juga disebut sebagai penggagas pembentukan kelompok aksi diplomatik baru yang bertujuan mendorong rekonsiliasi antara Lebanon dan Israel, sejalan dengan visi Pemerintahan Trump di masa lalu.

Potensi Invasi Militer

Situasi ini diperumit oleh pembunuhan seorang tokoh Hizbullah, Hassan Badir, dalam serangan udara di wilayah selatan Beirut. Sumber-sumber di media Ibrani menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari kemungkinan operasi militer skala besar yang tengah disiapkan Israel.

“Belum jelas apakah serangan penuh akan dilakukan sebelum atau sesudah kunjungan delegasi AS”, tulis laporan tersebut.

Analisis Ahli

“Ini permainan tingkat tinggi. AS ingin Hizbullah lumpuh tanpa perang terbuka, sementara Netanyahu butuh kemenangan simbolis usai kegagalan di Gaza,” papar pakar Timur Tengah dari Atlantic, Dr. Firas Maksad.

Apa Selanjutnya?

Jadwal Ortagus di Beirut akan jadi sinyal apakah diplomasi masih mungkin. Sementara respons Hizbullah menegaskan bahwa Gerakan Perlawanan Islam itu mengancam akan memberikan “pelajaran baru” jika Israel melanjutkan provokasi.

Dengan cadangan devisa Lebanon yang tinggal $9 miliar dan inflasi 250%, setiap langkah salah bisa memicu krisis eksistensial—menjadikan minggu-minggu ke depan sebagai ujian paling berat sejak perang saudara 1975-1990.

Peta politik dan militer Lebanon pun semakin terbelah. Di tengah tekanan eksternal, konflik internal tampak memanas dengan munculnya perbedaan tajam antarpartai politik terkait sikap terhadap Hizbullah dan hubungan dengan Israel.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *