Perusahaan Raksasa Aluminium Milik UEA Umumkan Force Majeure Usai Fasilitasnya Rusak Akibat Serangan Balasan Iran ke Pangkalan AS
POROS PERLAWANAN – Ketegangan geopolitik di Asia Barat kembali mengguncang sektor industri strategis global. Kali ini, perusahaan raksasa aluminium Emirates Global Aluminium (EGA) mengumumkan langkah darurat dengan memberlakukan force majeure setelah fasilitas utamanya mengalami kerusakan serius akibat serangan militer yang dikaitkan dengan konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Al Mayadeen yang mengutip Bloomberg, disebutkan bahwa EGA “terpaksa menghentikan sebagian pengiriman karena gangguan operasional yang tidak dapat dihindari”. Perusahaan menegaskan bahwa kondisi ini berada “di luar kendali mereka” dan secara langsung berdampak pada kemampuan memenuhi kontrak pasokan global.
“Ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan konsekuensi langsung dari eskalasi militer yang menghantam infrastruktur industri,” demikian kutipan dari sumber internal yang mengetahui situasi tersebut. Smelter yang terdampak dilaporkan mengalami kerusakan setelah serangan rudal dan drone sebagai bagian dari serangan balasan Iran terhadap fasilitas yang terkait dengan kepentingan AS di Kawasan.
Klausul force majeure sendiri merupakan mekanisme hukum yang biasa digunakan dalam kondisi ekstrem. “Ketika perang dan serangan bersenjata mulai menyentuh pusat produksi, maka rantai pasokan global ikut menjadi korban,” ujar seorang analis energi regional.
Konflik yang lebih luas memperlihatkan pola saling serang antara blok Israel-AS dan Iran, yang telah “menyeret sektor industri ke dalam pusaran krisis”. Situasi ini semakin rumit setelah diumumkannya gencatan senjata sementara selama dua pekan pada 8 April 2026 lalu, dengan pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad. Namun, banyak pihak menilai bahwa “ketidakpastian tetap menjadi bayang-bayang utama”.
EGA sendiri memperingatkan bahwa pemulihan fasilitas Al Taweelah bisa memakan waktu hingga satu tahun. “Ini bukan gangguan jangka pendek. Dampaknya akan terasa panjang, bahkan sistemik,” ungkap laporan tersebut.
Sebagai salah satu produsen aluminium terbesar di dunia, peran EGA sangat krusial. Gangguan produksinya langsung mengguncang pasar global. Harga aluminium di London Metal Exchange bahkan dilaporkan mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir. “Pasar bereaksi cepat ketika pasokan terganggu, tekanan harga tak terhindarkan,” kata seorang pelaku industri.
Asia Barat, yang menyumbang sekitar 10 persen produksi aluminium global, kini berada dalam tekanan berat. Smelter di kawasan tersebut “berjuang mendapatkan pasokan energi dan bahan baku penting seperti alumina”.
Dengan kapasitas produksi Al Taweelah mencapai 1,6 juta ton pada 2025, gangguan ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa konflik geopolitik telah menjelma menjadi krisis ekonomi global yang nyata.
