Ekonomi ‘Zombie’ Israel: Utang, Pelarian Modal, dan Isolasi Global Pasca-Gaza
POROS PERLAWANAN — Pascaperang Gaza yang berkepanjangan dan destruktif, perekonomian Israel menghadapi tekanan struktural yang semakin serius. Sejumlah analis menggambarkan kondisi ini sebagai “ekonomi zombie”: tampak bergerak dan aktif di permukaan, namun rapuh dari dalam, kehilangan daya tahan, dan melaju menuju krisis yang kian sulit dipulihkan.
Mengutip laporan kantor berita IRNA pada Kamis 18 Desember, para pengamat menilai ekonomi Israel telah memasuki fase erosi struktural pascaperang Gaza, yang oleh sebagian ahli disebut sebagai “titik tanpa kembali”. Dalam wawancara mendalam dengan penulis di platform 972+, ekonom Dr. Shir Hever selaku Direktur Koalisi Keadilan antara Israel dan Palestina, menguraikan gambaran suram kondisi ekonomi Israel saat ini.
Menurut Hever, perang Gaza tidak hanya menimbulkan kerugian militer besar, tetapi juga menggerogoti fondasi sosial dan ekonomi Israel. Pengungsian puluhan ribu keluarga dari wilayah perbatasan, kerusakan infrastruktur, serta penurunan tajam produktivitas menjadi dampak langsung yang kini beresonansi luas dalam perekonomian domestik.
Tekanan signifikan juga datang dari sektor ketenagakerjaan. Mobilisasi sekitar 300.000 tentara cadangan selama berbulan-bulan telah melumpuhkan pasar tenaga kerja, khususnya di sektor-sektor produktif utama. Investasi jangka panjang dalam pendidikan, pelatihan, dan peningkatan keterampilan turut terhenti, sehingga mempersempit kapasitas pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Di tingkat sosial, kelas menengah terdidik, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Israel menunjukkan kecenderungan meningkat untuk bermigrasi. Ketidakpastian keamanan dan perang yang berlarut-larut di berbagai front membuat banyak keluarga tidak lagi melihat prospek jangka panjang bagi generasi berikutnya. Fenomena ini dipandang sebagai ancaman strategis terhadap keberlanjutan ekonomi nasional.
Tekanan juga menguat di sektor keuangan. Arus keluar modal asing meningkat seiring kekhawatiran terhadap inflasi, pelemahan nilai tukar Shekel, penurunan peringkat kredit, serta meningkatnya risiko investasi. Kondisi tersebut mencerminkan merosotnya kepercayaan investor, baik domestik maupun internasional terhadap stabilitas ekonomi Israel. Pada saat yang sama, anggaran negara semakin terbebani oleh belanja militer, memaksa pemerintah memangkas layanan publik dan pendidikan tinggi, sekaligus mendorong peningkatan utang negara.
Di ranah internasional, Israel menghadapi isolasi yang kian nyata. Reputasi global yang sebelumnya menopang hubungan ekonomi dan keuangan tergerus oleh dampak kemanusiaan perang Gaza. Gelombang sanksi, boikot, dan tekanan diplomatik mempersempit akses Israel terhadap pembiayaan eksternal. Ketergantungan tinggi pada kredit luar negeri membuat situasi ini semakin menekan dan meningkatkan biaya pinjaman.
Meski para pejabat Israel menekankan stabilitas ekonomi dan likuiditas pasar, Hever menilai indikator-indikator tersebut menyesatkan. Menurutnya, penguatan pasar saham dan stabilitas sementara nilai Shekel sebagian dipicu oleh aliran dana jangka pendek, termasuk gaji tentara cadangan yang tidak terserap oleh konsumsi riil selama masa perang, sehingga menciptakan gelembung pasar yang rapuh.
Di sisi lain, pemerintah Israel telah menyetujui anggaran yang dinilai tidak mencerminkan realitas pengeluaran. Defisit melebar dan utang negara meningkat tanpa peta jalan fiskal yang jelas. Sektor teknologi, selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Israel juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan, ditandai dengan menurunnya inovasi dan meningkatnya arus keluar modal. Banyak pekerja dan pelaku industri teknologi dilaporkan menjual aset mereka dan memindahkan dana ke luar negeri.
Menutup analisisnya, Hever menegaskan bahwa ekonomi Israel berada di ambang krisis serius. Ketergantungan pada belanja militer besar dan pembiayaan eksternal, tanpa strategi pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan, dinilainya sebagai fondasi yang rapuh.
Perang Gaza, menurut para analis, bukan hanya memicu kerugian finansial besar, melainkan juga mengikis modal sosial, sumber daya manusia, dan legitimasi internasional Israel. Kombinasi faktor-faktor tersebut membentuk gambaran ekonomi yang tampak bertahan di permukaan, namun sesungguhnya tengah bergerak menuju keruntuhan struktural.
