Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Eks Marinir AS Nilai Iran Telah Menjadi Kekuatan Global

POROS PERLAWANAN — Mantan marinir Amerika Serikat, Matthew Hoh menilai Iran telah mencapai posisi sebagai kekuatan global setelah mampu memengaruhi kalkulasi strategis Amerika Serikat. Dinamika konflik disebut mendorong Iran beralih dari posisi defensif menjadi aktor aktif di tingkat internasional.

Hoh, yang juga pernah menjadi pejabat di Pentagon, menyatakan ukuran kekuatan abad ke-21 mengalami pergeseran. Indikator seperti besaran ekonomi atau jumlah persenjataan tidak lagi menjadi tolok ukur tunggal. Parameter utama kini terletak pada kemampuan membentuk keputusan, memengaruhi perilaku aktor lain, dan menciptakan dampak nyata dalam sistem internasional, sebagaimana dilaporkan Fars News Agency, pada Senin 27 April.

Dalam kerangka tersebut, Iran dinilai telah melampaui status kekuatan regional. Negara itu mampu bertahan di bawah tekanan militer dan ekonomi, sekaligus mengubah tujuan strategis lawan. Kapasitas tersebut terlihat dari pemanfaatan instrumen geostrategis, termasuk kendali atas jalur energi global seperti Selat Hormuz, serta pengembangan rudal dan drone.

Kemampuan memengaruhi pasar energi dan distribusi global dinilai memberi daya tekan signifikan dengan dampak lintas kawasan. Status “kekuatan global” dalam konteks ini tidak lagi ditentukan oleh dominasi teritorial, melainkan kapasitas mengganggu atau mengarahkan sistem vital dunia.

Pendekatan Iran juga disebut mencerminkan paradigma baru penggunaan kekuatan. Berbeda dengan model konvensional berbasis superioritas militer klasik, strategi yang ditempuh Iran mengandalkan pendekatan asimetris, teknologi berbiaya rendah, dan pemanfaatan ketergantungan global. Model ini dinilai mampu menciptakan efek penangkalan tanpa bergantung pada senjata strategis seperti nuklir.

Iran digambarkan sebagai “kekuatan jaringan” yang dapat memengaruhi arus energi, transportasi laut, dan rantai pasok internasional. Dalam model ini, ukuran kekuatan bergeser dari penguasaan wilayah ke kemampuan melumpuhkan sistem vital lawan. Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan dalam tatanan dunia multipolar.

Dari sisi militer, pengembangan kapasitas berbasis volume dan efisiensi menjadi faktor kunci. Produksi alat tempur berbiaya rendah dalam jumlah besar memungkinkan serangan berulang dengan tekanan berkelanjutan, yang dalam konflik modern menjadi penentu.

Keunggulan ini diperkuat kondisi geografis Iran yang disebut sebagai “negara-benteng”. Kombinasi topografi, kedalaman wilayah, dan sistem pertahanan berlapis menciptakan lingkungan operasional yang sulit ditembus. Skenario invasi darat dinilai mahal dan berisiko tinggi, sementara operasi udara dan laut menghadapi keterbatasan signifikan.

Kondisi tersebut menghasilkan penangkalan berlapis pada level taktis dan strategis. Iran tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menciptakan hambatan struktural terhadap upaya dominasi militer dari luar.

Perubahan strategi pascakonflik turut disorot. Sebelumnya, pendekatan yang ditempuh cenderung menahan diri dan menghindari eskalasi langsung meski memiliki instrumen tekanan. Dinamika konflik kemudian mendorong pergeseran ke langkah yang lebih aktif, termasuk penggunaan alat tekanan geopolitik.

Perubahan ini dinilai meningkatkan posisi Iran di tingkat internasional. Berbeda dengan sejumlah kasus lain yang berujung destabilisasi, kondisi internal Iran justru disebut lebih terkonsolidasi dengan aktivasi instrumen kekuatan yang lebih luas.

Berkaitan dengan wacana tindakan teror musuh terhadap pejabat Iran, langkah tersebut dinilai tidak memberikan keuntungan strategis. Opsi semacam itu justru berpotensi memperkuat kohesi internal dan meningkatkan eskalasi konflik.

Pengalaman historis menunjukkan bahwa penghilangan figur kunci atau negosiator tidak secara signifikan melemahkan suatu negara. Sebaliknya, langkah tersebut cenderung memperkuat solidaritas internal dan memicu respons balasan.

Munculnya opsi-opsi tersebut dinilai mencerminkan kebuntuan dalam perumusan strategi serta keterbatasan dalam memahami dinamika konflik modern yang semakin kompleks dan saling terhubung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *