Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Emile Lahoud Peringatkan Rencana AS dan Israel untuk Melemahkan Lebanon

POROS PERLAWANAN — Putra mantan Presiden Lebanon, Emile Lahoud memperingatkan lemahnya posisi Pemerintah saat ini dan menegaskan bahwa Amerika Serikat bersama Israel berupaya sepenuhnya mengosongkan Lebanon dari unsur kekuatan nasional. Ia menyerukan dukungan luas terhadap Perlawanan demi menjaga kedaulatan negara.

Menurut laporan Tasnim News Agency pada Sabtu 30 Agustus, Lahoud selaku mantan Anggota Parlemen Lebanon dan politisi terkemuka menilai keputusan Pemerintah untuk menyerah pada tekanan Zionis-Amerika sebagai langkah yang mengancam kedaulatan.

“Kedaulatan nasional adalah milik rakyat, bukan Pemerintah, dan tidak boleh dipertaruhkan. Setiap otoritas strategis yang berkaitan dengan pertahanan dan perlindungan Tanah Air harus lahir dari rakyat, darinya Militer dan Perlawanan dibentuk. Ancaman musuh menyasar seluruh Lebanon, bukan hanya kelompok tertentu,” tegas Lahoud dalam wawancaranya dengan Al-Ahed.

Ia menyoroti bahwa negosiasi Pemerintah Lebanon dengan utusan Amerika berjalan di atas prinsip konsesi yang terus-menerus:

“Musuh berusaha menelanjangi kami sepenuhnya dan menjatuhkan kami dari puncak gunung. Mereka tidak akan berhenti sebelum impian ‘Israel Raya’ yang digaungkan Netanyahu tercapai.”

Menyinggung perkembangan di Kawasan, Lahoud menegaskan bahwa tragedi di Gaza dan intervensi Israel di Suriah merupakan bukti bahwa ambisi Tel Aviv melampaui batas.

Lebih lanjut, ia mengkritik kelemahan Pemerintah dalam menghadapi tekanan internasional:

“Sekalipun berada di bawah ancaman sanksi, apakah tepat jika kita terus mengorbankan kepentingan nasional tanpa hasil nyata? Kita telah memberikan terlalu banyak konsesi, sudah saatnya siklus ini diakhiri.”

Lahoud juga menegaskan perlunya dialog nasional yang menyatukan semua kelompok politik Lebanon untuk menghadapi ancaman eksternal:

“Negara yang bekerja melawan dirinya sendiri tidak akan mampu bertahan. Apa yang kita butuhkan adalah mobilisasi rakyat, bukan retorika lemah. Mereka yang berjuang membela Tanah Air tidak boleh ditikam dari belakang.”

Dalam seruannya, Lahoud berharap Panglima Angkatan Bersenjata Lebanon, Joseph Aoun, mengambil sikap tegas:

“Sudah cukup dengan tekanan ini. Katakanlah dengan jelas kepada utusan Amerika bahwa kami telah melakukan bagian kami, dan jika perjanjian gencatan senjata November 2024 tidak dilaksanakan, maka Lebanon tidak lagi menjadi bagian dari negosiasi semu ini.”

Ia menutup pernyataannya dengan mengkritik sikap negara-negara asing yang mensyaratkan pelucutan senjata Perlawanan sebagai imbalan bantuan rekonstruksi:

“Mereka sama sekali tidak berniat mendukung Lebanon. Namun yang mereka inginkan hanyalah mendorong rakyat Lebanon untuk saling berperang.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *