Finlandia Bersiap Hadapi Skenario Perang dan Darurat Nasional
POROS PERLAWANAN – Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas ancaman keamanan regional, Parlemen Finlandia mengumumkan akan menggelar latihan simulasi perang dan situasi darurat nasional sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi eskalasi di Eropa Timur.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Senin 13 Oktober, latihan tersebut akan dilaksanakan pada November 2025 di bunker bawah tanah gedung Parlemen Finlandia di Helsinki. Seluruh anggota parlemen dijadwalkan ikut serta dalam simulasi yang meniru kondisi darurat dan perang berskala besar.
Wakil Ketua Pertama Parlemen Finlandia, Paula Risko menyatakan bahwa latihan ini merupakan respons terhadap perubahan drastis dalam lanskap keamanan regional, terutama terkait konflik yang terus berlangsung di Ukraina dan potensi ancaman dari Rusia.
“Kita harus realistis terhadap perubahan lingkungan keamanan di sekitar kita. Latihan ini bukan simbolik, tetapi langkah nyata untuk memastikan sistem pemerintahan tetap berfungsi dalam situasi ekstrem,” ujar Risko.
Sementara itu, Militer Finlandia juga tengah memperkuat pertahanan perbatasan timur dengan Rusia, sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan meluasnya konflik Ukraina.
Sebagai tanggapan, Rusia dilaporkan memperkuat benteng dan infrastruktur militernya di sepanjang perbatasan Finlandia, menyusul bergabungnya Helsinki dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada 2023.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional Rusia terhadap ekspansi NATO ke wilayah Skandinavia.
“Moskow tidak akan tinggal diam terhadap langkah-langkah provokatif di dekat perbatasannya,” ujar Medvedev.
Dalam perkembangan terkait, NATO baru-baru ini membuka pusat komando baru untuk pasukan daratnya di Finlandia, berlokasi dekat perbatasan Rusia. Pusat komando ini bertujuan mempercepat koordinasi militer dan logistik di kawasan Baltik dan Arktik.
Finlandia, yang kini menjadi anggota ke-31 NATO, menegaskan bahwa keikutsertaannya dalam aliansi tersebut bertujuan memperkuat pertahanan kolektif, bukan memprovokasi ketegangan. Namun, langkah ini secara tidak langsung menandai babak baru rivalitas strategis antara Rusia dan NATO di Eropa Utara.
