Mantan Pejabat AS Ragu Proposal Trump untuk Gaza Bisa Dilaksanakan Sepenuhnya
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan France24, Robert Malley, mantan pejabat AS yang pernah aktif di beberapa Pemerintahan AS sebelumnya dalam urusan terkait Asia Barat, mengungkap kesangsiannya mengenai kemungkinan pelaksanaan fase-fase berikutnya dari proposal Donald Trump untuk Gaza.
Dilansir Fars, dia menganggap gencatan senjata, pembebasan tahanan dan sandera, masuknya bantuan kemanusiaan, dan penarikan pasukan Israel sebagai bagian dari poin-poin krusial yang dapat dilaksanakan dalam proposal berisi 20 poin yang digagas Trump untuk masa depan Gaza.
Meski demikian, ia menyatakan keraguan tentang pelaksanaan penuh rencana tersebut dan mengatakan,“Saya tidak yakin bagian-bagian lain dari rencana tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan yang tertulis.”
Proposal 20 poin Donald Trump untuk Gaza, yang dikenal sebagai “Proposal Perdamaian Gaza” atau “Peta Jalan Trump”, digulirkan pada 29 September 2025 dalam konferensi pers di Gedung Putih, yang juga dihadiri oleh PM Israel, Benjamin Netanyahu.
Proposal ini berbeda dengan proposal sebelumnya yang diajukan oleh Trump pada Februari 2025. Proposal terbaru didasarkan pada gencatan senjata segera, pertukaran tawanan, dan rekonstruksi Gaza.
Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) telah menyetujui pelaksanaan tahap pertama dari rencana ini, yang mencakup gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Namun Hamas masih belum sepenuhnya menyetujui pelaksanaan bagian-bagian lain dari proposal tersebut, seperti pelucutan senjata dan masa depan pemerintahan di Gaza.
Dalam bagian lain dari wawancara dengan France 24 soal keraguannya tentang pelaksanaan fase-fase lain dari proposal Trump, Malley mengatakan bahwa Hamas tidak memiliki minat untuk meletakkan senjata. Di sisi lain, Israel juga tidak menyetujui kehadiran pasukan internasional penjaga perdamaian di wilayah tersebut.
Malley mengkritik peran AS dalam mediasi perdamaian. Dia mengatakan,“AS telah memihak pada pihak yang lebih kuat, yaitu Israel.”
“Proses perdamaian tidak hanya gagal membuahkan hasil, tetapi juga menjadi kamuflase untuk kelanjutan dan memburuknya situasi yang ada dan berujung pada bencana yang kita saksikan hari ini,” ujarnya.
