Foreign Affairs: Senjata Trump Lebih Banyak Membunuh Kawan daripada Lawannya
POROS PERLAWANAN – Sejarawan dan analis AS, Nicholas Mulder dalam tulisannya di Foreign Affairs menyatakan, para sekutu AS, seperti Kanada, Meksiko, negara-negara Eropa dan Asia Barat lebih dirugikan oleh ancaman dan tekanan ekonomi Donald Trump dibandingkan negara-negara seperti Iran, Venezuela, China, dan Rusia.
Diberitakan Fars, Mulder berpendapat bahwa selama Perang Dingin berlangsung, Washington selalu menggunakan tekanan ekonomi terhadap para sekutunya sendiri. Sebagai contoh, ancaman AS untuk menghentikan bantuan di tahun 1948 memaksa Pemerintah Belanda (selaku sekutu Washington) untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia dalam tempo satu tahun.
Pada dekade 1980, Pemerintahan Ronald Reagan juga melontarkan ancaman hukuman dan sanksi komersial terhadap sekutu AS lain, yaitu Jepang. Ancaman itu bertujuan mencegah produk-produk Negeri Matahari Terbit membanjiri pasar Paman Sam.
Dalam tulisannya, Mulder mengakui bahwa Kebijakan Tekanan Maksimum Trump di periode pertama terhadap Iran dan Venezuela gagal membuat perubahan politik di kedua negara tersebut, meski membuat mereka harus menghadapi kondisi yang sulit.
Di sisi lain, Kanada dan Meksiko, sama seperti kawan-kawan AS lainnya, pasti akan menerima pukulan berat lantaran tekanan ekonomi Trump. Sebab, tiga perempat seluruh ekspor Kanada dan 98 persen ekspor minyaknya dikirim ke AS. Washington juga merupakan mitra dagang terbesar Meksiko.
Diberitakan CNN pada Senin lalu, Trump mengumumkan tarif baru untuk produk-produk impor dari Meksiko dan Kanada berlaku pada Selasa waktu setempat.
“Besok tarif 25 persen untuk Kanada dan 25 persen untuk Meksiko. Dan itu akan dimulai,” kata Trump kepada wartawan.
Menurutnya, pengenaan tarif impor baru akan memaksa kedua negara tetangga AS tersebut untuk meningkatkan perlawanan mereka terhadap perdagangan fentanil, serta menghentikan imigrasi ilegal.
