Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Foreign Policy Soroti Kebijakan Luar Negeri AS: Trump Tidak Akan Menang dengan Tingkah Bodohnya Ini

POROS PERLAWANAN — Perubahan terbaru dalam kebijakan luar negeri Donald Trump baik terkait Rusia, Tiongkok, NATO, maupun Timur Tengah, bertentangan dengan janji-janjinya sendiri dan bahkan membingungkan para loyalisnya. Pendekatan ini telah menyeret Amerika Serikat ke dalam periode paling tidak stabil dan bergejolak dalam sejarah modernnya.

Editor majalah Foreign Policy, Stephen Walt, pada Kamis 24 Juli, mencatat hal ini dengan tajam: Pemerintahan Trump dan para pendukung setia gerakan MAGA sedang menghadapi momen yang ganjil dan belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan hanya skandal Jeffrey Epstein yang mengguncang kepercayaan sebagian loyalis; perubahan arah dalam kebijakan luar negeri Trump juga menunjukkan pergeseran drastis dari posisi yang selama ini mereka dukung.

Bertentangan dengan janji kampanye 2024, ketika Trump mengeklaim akan mencapai kesepakatan damai dengan Rusia dalam 24 jam dan mengakhiri perang di Ukraina atau sepenuhnya menghentikan bantuan ke Kiev, Trump kini justru berjanji untuk mengirim lebih banyak bantuan militer dan bahkan sempat mendorong Presiden Zelensky untuk menyerang Moskow secara langsung, sebelum akhirnya menarik kembali pernyataan itu setelah menjadi konsumsi publik.

Di Eropa, Trump sebelumnya menyuarakan penarikan diri demi fokus ke Asia, namun kini justru menunjukkan ketertarikan baru terhadap NATO. Di Timur Tengah, meskipun belum sepenuhnya meninggalkan retorika isolasionisnya, Trump bulan lalu memerintahkan serangan terhadap Iran atas permintaan Tel Aviv, sebuah operasi yang gagal total. Langkah ini mendapat sambutan dari neokonservatif anti-Trump seperti Bill Kristol, tetapi menuai kekecewaan dari mantan pendukungnya seperti Tucker Carlson.

Di bidang teknologi, ia bahkan melonggarkan pembatasan terhadap Tiongkok dengan mengizinkan penjualan kembali chip Nvidia, sebuah langkah yang secara signifikan melemahkan upaya pengekangan teknologinya sendiri terhadap Beijing.

Sementara itu, Trump terus memprioritaskan dendam pribadi, menunjukkan tanda-tanda penurunan kognitif yang semakin kentara, dan memimpin pemerintahan yang secara luas dianggap sebagai salah satu yang paling korup dalam sejarah Amerika.

Bagaimana semua ini bisa dijelaskan? Setidaknya ada tiga skenario yang masuk akal.

Pertama, kembalinya dominasi foreign policy establishment yang dikenal sebagai “Blob”, di balik layar Trump. Meski sebelumnya mencoba memberontak terhadap mereka, tampaknya Trump kini kembali tunduk pada agenda kelompok ini.

Kedua, Trump mungkin sekadar mencoba menyesuaikan diri dengan realitas geopolitik. Ia bisa saja menyadari bahwa “persahabatan” dengan Putin tidak menghasilkan apa pun, dan bahwa Presiden Rusia tidak akan menghentikan perang hanya karena Trump menginginkannya. Narasi serupa berlaku di Timur Tengah: Trump, seperti Biden, tidak pernah bersedia menekan Israel secara nyata, memberikan ruang bagi genosida di Gaza yang didukung penuh oleh AS. Sementara Iran tetap menolak tuntutan untuk menghentikan program nuklirnya, dan serangan terhadap negara itu gagal mencapai tujuan strategis apa pun. Israel, dengan semua kelebihannya, tetap terlalu kecil untuk menjadi poros dominasi Kawasan.

Namun, mengadopsi narasi ini menuntut satu prasyarat: bahwa Trump memiliki koherensi strategis dan visi jangka panjang, dua hal yang belum pernah ditunjukkan secara konsisten selama masa kepemimpinannya.

Opsi ketiga, yang paling mengkhawatirkan namun tampaknya paling akurat: bahwa perubahan arah ini lebih mencerminkan kepribadian dan narsisme Trump daripada strategi yang rasional. Peningkatan bantuan militer ke Ukraina bukanlah bentuk dukungan terhadap kemerdekaan negara tersebut, melainkan reaksi pribadi terhadap penggambaran Putin sebagai sosok kuat yang mengancam citra Trump sendiri.

Perilaku inkonsisten Trump dalam soal tarif juga mencerminkan pola ini. Ia memperlakukan kebijakan perdagangan sebagai panggung drama untuk memastikan sorotan media tetap tertuju padanya.

Trump tak pernah mampu membedakan antara kepentingan nasional dan egonya. Ia lemah dalam memilih penasihat yang kompeten, dan terlalu rentan terhadap sanjungan. Hasilnya adalah kebijakan luar negeri yang semakin tidak stabil, kacau, dan kontraproduktif.

Kini, saat Amerika Serikat menghadapi rival-rival paling serius dalam sejarahnya, kepemimpinan berbasis impuls dan loyalitas buta, alih-alih kompetensi, adalah resep pasti menuju kegagalan. Pendekatan ini tidak hanya melemahkan posisi global Amerika, tetapi juga memperdalam keterasingan internal yang sudah menggerogoti sendi-sendi politik domestik.

Rakyat Amerika mungkin hanya bisa berharap bahwa kutipan legendaris yang dikaitkan dengan Kanselir Otto von Bismarck masih berlaku: “Tuhan memiliki belas kasih khusus untuk pemabuk, orang bodoh, dan Amerika Serikat”.

Namun tampaknya, sekarang lebih dari sebelumnya, Amerika benar-benar membutuhkan keajaiban.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *