Loading

Ketik untuk mencari

Analisa Suriah

Kisah Jatuhnya Suriah: Kenapa Bashar Assad Begitu Mudah Dilengserkan??

Kisah Jatuhnya Suriah, Kenapa Bashar Assad Tinggalkan Kursi Kekuasaan?

POROS PERLAWANAN – Hari Minggu tanggal 8 Desember 2024 akan tercatat dalam sejarah kontemporer Suriah. Setelah Dinasti Assad dan Partai Baath berkuasa selama 45 tahun di negeri bersejarah Syam, para teroris akhirnya bisa mengakhiri karir politik sang dokter mata lulusan London tersebut, menyusul pendudukan atas Aleppo, Hama, Homs, Daraa, dan Damaskus.

Dilansir Mehr, dengan jatuhnya Damaskus, seluruh pusat pemerintahan dan militer dikendalikan oleh para teroris. PM Suriah menjanjikan Pemilu bebas untuk menentukan UUD dan penguasa Suriah mendatang berdasarkan Resolusi 2245 Dewan Keamanan PBB.

Yang menjadi pertanyaan banyak orang, bahkan para pakar, adalah kenapa kelompok oposisi bersenjata bisa bergerak ke arah Ibu Kota serta menguasai Damaskus tanpa perlawanan sedikit pun dari Militer atau rakyat Suriah? Kenapa sejarah tidak berulang dan Assad kali ini tidak bisa mempertahankan kekuasaannya?

Kenapa Assad Tidak Meminta Bantuan dari Perlawanan?

Pengamatan atas pergerakan oposisi Suriah di Idlib dari satu sisi, dan kondisi Militer Suriah yang tidak ideal di berbagai front menyebabkan sejumlah komandan militer Iran melawat ke Damaskus hingga bulan lalu. Mereka memperingatkan perkembangan yang terjadi di negara Arab tersebut.

Informasi yang diperoleh dari lembaga-lembaga keamanan menunjukkan, para teroris di Idlib telah memulai pergerakan besar dalam melatih pasukan dan memperlengkapi mereka dengan perangkat ofensif-defensif. Hal ini membunyikan alarm bahaya bagi Unit-Unit Konsultan Iran dan mendorong mereka mengaktifkan unit-unit militer Perlawanan di sekitar Idlib. Tentu saja hal ini membutuhkan lampu hijau dari Assad.

Dalam lawatan-lawatan ke Suriah, para pejabat Iran mengetahui bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap Pemerintah Suriah terus meningkat. Hal ini disebabkan tiadanya rekonstruksi infrastruktur dan menumpuknya berbagai problem ekonomi. Dalam beberapa bulan terakhir, warga Provinsi Suwaida, yang dikenal sebagai basis lama pendukung Pemerintahan Assad, melakukan aksi protes besar lantaran paceklik, tiadanya pelayanan publik, dan merosotnya nilai mata uang Suriah. Kondisi serupa sedikit banyak juga terjadi di berbagai tempat di Suriah. Himpunan faktor-faktor ini mendorong para pejabat Iran, sebagai “sekutu lama”, memperingatkan tantangan-tantangan yang dihadapi Pemerintah Suriah di bidang militer, ekonomi, dan opini publik. Mereka mengimbau agar tantangan-tantangan tersebut diatasi.

Menjauh dari Perlawanan dan Dikecoh para Kawan Baru

Sayangnya, menanggapi itikad baik Iran, Assad secara resmi menyatakan bahwa tak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah di atas. Ia juga mengeklaim, para teroris tidak punya daya untuk berperang dan akan saling berkonflik jika gerakan militer dimulai. Analisis keliru ini, alih-alih disebabkan adanya informasi atau keyakinan terhadap front domestik, hanya sebuah dalih untuk mengurangi peran Iran dalam perkembangan di Suriah. Sebelum ini, atas desakan negara-negara Arab, Assad meminta para komandan lama Iran untuk mengakhiri misi mereka di Suriah.

Perubahan sikap Assad dan ketidakpeduliannya kepada peringatan-peringatan Iran menandakan adanya janji-janji menyesatkan yang diberikan para pemain aktif di Suriah. Demi mengatasi masalah ekonomi dan merekonstruksi kerusakan akibat perang, Pemerintah Suriah memutuskan untuk mengambil jarak secara bertahap dari Iran dan mendekati AS serta negara-negara konservatif Sunni. Sepertinya di hari-hari pertama dimulainya pergerakan para teroris ke Aleppo, Pemerintahan Assad mendapatkan janji bantuan dari beberapa negara. Namun tak satu pun janji itu dipenuhi hingga 8 Desember.

Menurut laporan Reuters, UEA memediasi Washongton dan Damaskus dalam mengobral janji kepada Assad. UEA berjanji bahwa jika Suriah menjauhi Iran dan Poros Perlawanan, Embargo Caesar tidak akan diperpanjang lagi pada 20 Desember ini. Dengan demikian, Damaskus bisa menjadi tuan rumah “Dolar-dolar minyak” dan berbagai proyek ekonomi. Janji kosong ini bukan hanya tidak ditepati, tapi menjadi sebuah fatamorgana yang akhirnya berujung kepada jatuhnya Sang Dokter.

Jangan Sampai Ambil Langkah Keliru di Timteng!

Dengan dimulainya pergerakan mesin perang teroris dari Idlib, para pejabat level tinggi Iran kali ini menghubungi Assad kembali. Iran menyatakan kesiapan Tehran untuk mendukung Damaskus sepenuhnya. Menanggapi tawaran Iran, Assad secara terbuka berbicara tentang tiadanya kontrol atas front perang melawan oposisi bersenjata. Ia pun menyerahkan keputusan terkait keterlibatan pasukan Iran dalam perang Suriah kepada Tehran! Dengan kata lain, alih-alih mengajukan permintaan bantuan secara resmi kepada para pejabat Iran, Assad memutuskan untuk mengkaji tawaran-tawaran dari para “kawan baru.” Berjalannya waktu menunjukkan itu adalah keputusan keliru, padahal “para politisi di Timteng tidak boleh mengambil langkah salah.”

Kendati mendapatkan “respons angkuh” dari Assad, Angkatan Bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siaga. Mereka siap menuju front-front perang begitu mendapatkan lampu hijau dari Damaskus. Tehran menghubungi Assad di jam-jam terakhir dan (mungkin) untuk terakhir kalinya, menyatakan kesiapan penuh Iran untuk terlibat dan mengubah perimbangan demi keuntungan Damaskus. Namun pada akhirnya, ketidaksiapan Assad, kinerja lemah Militer Suriah dan ketidakpuasan rakyat menyebabkan bahwa meski “ada peluang keberhasilan”, para petinggi Iran setelah berdiskusi panjang menyimpulkan bahwa kali ini “situasinya tidak memenuhi syarat bagi Iran untuk memberikan bantuan militer kepada Assad.”

Kesimpulan

Dengan keluarnya Suriah (untuk sementara) dari Poros Perlawanan, hubungan antara berbagai faksi di Poros ini menghadapi banyak tantangan. Hal ini terutama berkaitan dengan jalur suplai senjata untuk Hizbullah Lebanon. Kecepatan perkembangan saat ini di Kawasan dan koordinasi antara AS, Israel, dan negara-negara konservatif Arab menunjukkan adanya perencanaan selama bertahun-tahun demi mengubah geopolitik utara Gaza dan perimbangan kekuatan demi kepentingan Poros Barat-Arab-Ibrani.

Meski demikian, permainan masih belum selesai! Sejarah penuh liku agama Islam memberi pesan kepada para pejuang Perlawanan bahwa jika kaum beriman bisa mengambil pelajaran dari Uhud, mereka akan mendapatkan kemenangan-kemenangan seperti di Khaibar.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *