Gelombang Protes Anti-Trump Landa Sejumlah Negara Eropa
POROS PERLAWANAN – Gelombang protes terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Penasihatnya Elon Musk, meluas ke sejumlah negara Eropa. Ribuan orang turun ke jalan menentang kebijakan Pemerintahan AS yang dianggap mengancam demokrasi, lingkungan, dan hak-hak sipil.
Menurut laporan NTV pada Sabtu 5 April, ratusan pengunjuk rasa berkumpul di depan ruang pamer Tesla di Berlin. Aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas menentang Elon Musk, yang kini menjabat sebagai Penasihat Presiden Trump, serta perusahaannya, Tesla.
Penyelenggara aksi, yang tergabung dalam inisiatif Turn Off the Valve on Tesla, menyatakan bahwa tujuan mereka adalah memperluas kampanye oposisi terhadap peran politik dan ekonomi Musk di Jerman.
“Elon Musk tidak seharusnya terus merusak struktur demokrasi tanpa menghadapi pertanggungjawaban,” ujar juru bicara inisiatif tersebut, Caro Weber.
Aksi protes serupa juga dilaporkan terjadi di Frankfurt, di mana para demonstran membawa poster bertuliskan: “Kembalikan demokrasi”, “Serahkan data pribadi kami”, dan “Dunia sudah muak dengan omong kosongmu, Donald – pergilah!”
Protes Massal di AS dan Negara Lain
Sementara itu, di Amerika Serikat sendiri, gelombang protes nasional terhadap Presiden Trump dan Elon Musk diperkirakan menjadi yang terbesar sejak pelantikannya. Sekitar 1.200 demonstrasi dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama di seluruh 50 Negara Bagian.
Aksi-aksi tersebut diorganisasi di bawah slogan “Hands Off!”, yang dimaksudkan untuk menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan domestik dan luar negeri Pemerintah AS saat ini.
Selain Eropa dan AS, aksi solidaritas juga dilaporkan terjadi di Kanada, Meksiko, dan Inggris. Di Prancis, kelompok aktivis menggelar unjuk rasa di Paris, menyuarakan kekhawatiran terhadap peran Amerika Serikat dalam geopolitik global dan krisis iklim.
Elon Musk di Pusaran Kritik
Kritik terhadap Elon Musk meningkat tajam sejak ia diangkat sebagai Penasihat Kebijakan Fiskal oleh Presiden Trump. Penunjukan tersebut menuai kecaman dari sejumlah kalangan, mengingat posisi Musk sebagai CEO dari perusahaan-perusahaan raksasa seperti Tesla dan SpaceX, yang memiliki kepentingan besar di berbagai sektor industri.
Para pengunjuk rasa menuduh Musk menggunakan pengaruh politiknya untuk menghindari regulasi lingkungan dan memperluas dominasi korporatnya di Eropa dan Amerika.
