Genosida Gaza dan Kemunafikan Uni Eropa
POROS PERLAWANAN — Sejarah tidak ditulis oleh mereka yang bersuara paling nyaring di forum diplomatik, tetapi oleh mereka yang berdiri di sisi kebenaran saat dunia membisu. Dalam tragedi Genosida Gaza yang terus berlangsung, Uni Eropa (UE) telah membuktikan dirinya bukan sebagai pembela hak asasi, tetapi sebagai penonton pengecut yang berselimut retorika palsu dan moralitas selektif.
Ketika ribuan anak Palestina dikubur di bawah puing-puing rumah mereka, ketika seluruh keluarga dihapus dari registri sipil, Eropa memilih untuk menutup mata. Mereka tidak hanya diam, bahkan mereka bersekongkol.
Fase Awal: Solidaritas Buta terhadap Agresi
Begitu serangan 7 Oktober 2023 terjadi, tanpa menunggu penyelidikan atau konteks, para pemimpin Eropa berlomba menunjukkan “solidaritas” pada Israel. Gedung-gedung UE di Brussels dikibarkan bendera Israel, lagu kebangsaan Zionis berkumandang, dan seluruh aparat politik Eropa tunduk pada narasi penjajah.
Tak ada seruan untuk gencatan senjata. Tak ada empati bagi rakyat Gaza yang dihukum kolektif. Bahkan ketika bom fosfor putih dijatuhkan di kawasan padat penduduk, Eropa tetap membenarkan semuanya dengan dalih bahwa Israel punya “hak membela diri”.
Austria, Jerman, dan negara anggota lain bahkan menghentikan bantuan kemanusiaan ke Palestina. Sementara itu, pejabat sekelas anggota Parlemen Eropa dari Spanyol, Josep Borrell, belakangan mencoba menampilkan wajah “berimbang”, meski awalnya menjadi bagian dari orkestra pembenaran atas genosida.
Kemunafikan Terstruktur dan Keterlibatan Aktif
Ketika Israel memblokade total Gaza, memutus air, listrik, dan makanan, apa yang dilakukan Eropa? Mereka menunggu. Menunggu hingga lebih dari 50.000 warga Palestina tewas, hingga kelaparan menjangkiti anak-anak, dan rumah sakit tak lagi berfungsi.
UE tidak hanya lamban, mereka sengaja membiarkan hal ini terjadi. Dengan alasan “konsensus”, mereka menolak memutus hubungan dagang, terus mengalirkan ekspor teknologi, dan bahkan tetap menjalin pertemuan diplomatik rutin dengan Israel.
Lebih ironis lagi, ketika delegasi diplomatik mereka sendiri ditembak di Jenin, responsnya hanyalah teguran. Eropa bahkan tidak mampu melindungi diplomatnya sendiri, bagaimana mungkin mereka peduli pada rakyat Gaza?
“Titik Balik” yang Penuh Kepalsuan
Pada Mei 2025, setelah kematian puluhan ribu jiwa dan kehancuran total Gaza, UE akhirnya mengumumkan tinjauan terhadap Perjanjian Asosiasi dengan Israel. Namun apalah artinya “meninjau” setelah pembantaian? Apa gunanya jika perdagangan, investasi, dan ekspor senjata tetap berjalan?
Kenyataannya, ini bukan titik balik. Ini hanyalah manuver kosmetik untuk menyelamatkan wajah politik yang sudah terjerembab dalam lumpur kolaborasi.
Eropa tidak sedang mengoreksi arah moralnya, mereka sedang menghitung kerugian citra di mata dunia. Lebih parahnya lagi, bahkan dalam tinjauan tersebut, tidak ada janji sanksi. Tidak ada embargo. Hanya “kajian”, “pembahasan”, dan “peninjauan”.
Standar Ganda dan Kebangkrutan Moral
Bandingkan dengan Ukraina. Dalam hitungan minggu setelah invasi Rusia, UE memberlakukan sanksi brutal, memutus kerja sama, membekukan aset, dan menggalang dukungan militer. Akan tetapi, terhadap Israel? Pihak yang bahkan dituduh melakukan genosida oleh berbagai lembaga hukum internasional, Eropa malah berdebat soal frasa dalam pernyataan pers.
Inilah wajah asli Eropa: penjaga “hak asasi manusia” yang hanya berlaku untuk sekutunya. Tatanan dunia berbasis aturan hanya diterapkan saat musuh mereka melanggar hukum, bukan saat sahabat kolonial mereka melakukannya.
Ketika Barat bersikap munafik, dunia menyaksikan. Kemudian dari puing-puing Gaza, muncul kesadaran global bahwa Eropa telah kehilangan otoritas moralnya.
Saatnya Memilih Kemanusiaan atau Kekuasaan
Uni Eropa, dengan segala sumber daya dan pengaruhnya, memilih menjadi komplotan. Mereka memilih kekuasaan atas prinsip, bisnis atas nyawa, dan kenyamanan atas keadilan.
Kini, saat dunia menanti tindakan, Eropa harus menjawab satu pertanyaan mendasar: Apakah mereka siap membayar harga politik demi menyelamatkan nilai-nilai yang selama ini mereka khotbahkan? Atau apakah mereka akan terus menonton diam, acuh, dan pura-pura bermoral?
Gaza tidak butuh simpati. Gaza butuh keadilan. Jika Eropa tidak mampu memberikannya, maka mereka harus bersiap dihukum oleh sejarah, bukan karena apa yang mereka lakukan, tapi karena apa yang tidak mereka lakukan.
