Haaretz: 10 Serdadu Israel Termasuk Perwira Mereka Bunuh Diri di Jam-jam Pertama Operasi Badai al-Aqsa
POROS PERLAWANAN– Dikutip Mehr dari Arab48, harian Israel Haaretz pada hari Minggu 12 membeberkan upaya Militer Rezim Zionis untuk menyensor kabar bunuh diri para serdadunya saat dimulainya Operasi Badai al-Aqsa.
“Informasi yang diperoleh dari Militer Israel menunjukkan, pada jam-jam pertama Operasi 7 Oktober (Badai al-Aqsa)m sedikitnya 10 serdadu Israel melakukan bunuh diri. Di antara mereka terdapat sejumlah perwira,” tulis Haaretz.
“Belakangan, Militer Israel mencantumkan nama mereka di daftar orang-orang yang tewas di perang Gaza. Namun Militer Israel tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kejadian ini.”
Laporan Haaretz lalu mengutip dari sejumlah sumber pihak keamanan, bahwa Militer Israel menyensor berita soal tewasnya 17 serdadu, yang sebagian dari mereka berasal dari Pasukan Cadangan.
Para pakar militer Israel menyatakan, tren bunuh diri di Militer israel paling banyak terjadi di tengah para serdadu muda. Operasi Badai al-Aqsa berperan besar dalam meningkatnya tren bunuh diri ini.
Sumber Haaretz mengatakan, tersiarnya kabar bunuh diri para serdadu Zionis berdampak negatif atas masyarakat Israel dan membuat mereka lebih rentan. Sebab itu, Militer Israel memilih untuk bertindak dengan cara lain sehubungan dengan masalah ini.
Sementara itu, Kepala Staf Umum Militer Israel Herzi Halevi mengakui kegagalan Israel di perang Gaza. Ia mengatakan,”Sya bertanggung jawab atas kegagalan Militer pada 7 Oktober. Saya memahami maknanya dengan baik.”
Kanal 13 Oisrael juga memublikasikan detail rapat akhir pekan lalu yang dihadiri Halevi.
Dalam rapat tersebut, Halevi mengatakan,”Militer harus kembali menyerang Jabaliya (kawasan di utara Gaza), sebab tidak ada pergerakan politik untuk menempatkan penguasa selain Hamas di Gaza.”
“Kita mesti mengulang operasi di Jabaliya dan selainnya untuk menghancurkan kekuatan infrastruktur Hamas. Namun semua upaya ini gagal, menjemukan, dan membuat putus asa.”
Menurut Kanal 13, Halevi mendesak Netanyahu dan para pimpinan militer-politik untuk secara serius menentukan strategi di perang Gaza.
Sebelum ini, para pejabat senior Israel mengkritik Netanyahu lantaran tidak memiliki program dan strategi jelas untuk masa pascaperang.
