Hal-hal Tragis Tak Terungkap dari Krisis Mental Tentara Israel di Medan Perang
POROS PERLAWANAN – Banyak keluarga tentara Israel mengungkapkan bahwa anak-anak mereka kini mengalami gangguan mental serius akibat perang. Generasi tentara ini, kata mereka, mungkin tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Sementara itu, Militer rezim Zionis terus memaksa pemuda berusia 20 tahun untuk bertempur demi menutupi kekurangan personel yang semakin parah.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Selasa 19 November, tentara Israel telah melakukan berbagai kejahatan selama konflik berkepanjangan melawan negara-negara Arab, terutama Palestina. Kekejaman yang mereka lakukan digambarkan sebagai tindakan brutal yang melampaui batas kemanusiaan.
Hanya menyaksikan sebagian kecil dari kekejaman ini saja dapat menimbulkan trauma mendalam. Namun, tentara Israel justru memamerkan aksi-aksi mereka di media sosial, alih-alih merasa bersalah.
Sejak awal perang Gaza, media Israel banyak melaporkan gangguan mental yang dialami tentara mereka. Namun, jelas bahwa masalah psikologis ini bukan berasal dari rasa bersalah atas kejahatannya, melainkan karena kerugian besar akibat Perlawanan.
Motivasi Bertempur Tentara Israel Terus Menurun
Gangguan mental paling banyak dialami tentara cadangan dan prajurit muda. seorang penulis Israel dan pakar gangguan psikologis, Ravital Hofil menjelaskan dalam artikelnya bahwa tentara merasa kehilangan arah dan tujuan setelah perang yang tak kunjung berakhir.
Seorang ibu dari tentara Israel mengungkapkan bahwa setelah lebih dari satu tahun perang tanpa akhir yang jelas, anaknya merasa terjebak dalam keputusasaan mental dan kehilangan semangat bertempur.
Artikel tersebut juga menyoroti banyak tentara berharap militer lebih siap pascapandemi COVID-19. Namun, perang tiba-tiba pecah, menciptakan kekacauan yang tak terkendali. Dampak mental dari perang ini begitu besar sehingga banyak prajurit merasa hidup mereka hancur meskipun mereka selamat.
Depresi dan Kecemasan: Gangguan Umum di Kalangan Tentara Israel
Seorang tentara Israel, dengan nama samaran “Alon”, mengisahkan pengalaman traumatisnya: “Setelah tiga minggu bertempur di Gaza, sebuah roket menghantam kami. Komandan saya tewas di depan mata, dan seorang kolonel terluka parah. Ketika kembali ke Gaza setelah cuti, saya merasa tidak sanggup lagi melanjutkan perang.”
Alon saat ini menjalani pengobatan untuk depresi berat dan gangguan psikologis parah. Ia mengaku pikirannya terus dihantui oleh kejadian-kejadian di medan perang.
Depresi menjadi gangguan mental paling umum di kalangan tentara Israel, diikuti oleh insomnia, kecemasan, iritabilitas, dan kesulitan beradaptasi selama cuti.
Meningkatnya Kasus Gangguan Mental di Militer
Seorang saudara prajurit Israel menceritakan bahwa kakaknya menolak tidur di kamar tidurnya, sulit makan, dan sering merasa putus asa. Ketika keluarga menawarkan bantuan, ia menjawab, “Bisakah kalian menyembuhkan jiwa saya?”
Data-data menunjukkan bahwa satu dari tiga tentara Israel membutuhkan bantuan psikologis selama perang. Jumlah ini terus bertambah seiring eskalasi konflik.
Seorang ayah dari tentara infanteri yang bertugas di Gaza mengungkapkan bahwa anaknya kehilangan dua sahabatnya dalam perang dan kini mengisolasi diri di kamar setiap kali pulang.
Seorang ibu lainnya, Orna, mengatakan anaknya selalu tampak lelah, menarik diri, dan sulit diajak bicara. Ketika ditanya tentang pengalamannya di medan perang, ia menjawab, “Jangan tanya, saya tidak punya energi.” Namun, sesekali ia berkata, “Bu, tahu apa itu bau kematian?”
Generasi Tentara yang Tak Akan Pernah Pulih
Ibu dari seorang tentara komando yang kini bertempur di Lebanon, Tamar, mengkritik pendeknya durasi perawatan yang diberikan Militer. “Bagaimana mungkin memulihkan kondisi mental seseorang dalam satu hari? Militer mengeksploitasi anak-anak kita. Bahkan mesin pun bisa aus, apalagi manusia.”
Ia menambahkan bahwa kini tidak ada waktu istirahat bagi tentara dengan gangguan mental, berbeda dengan kebijakan sebelumnya. Dengan kekurangan personel, mereka dipaksa terus bertempur dalam kondisi apa pun, meninggalkan satu generasi yang tak akan pernah pulih.
