Media Ibrani Bocorkan Lawatan Diam-diam Kepala Shin Bet ke Turki
POROS PERLAWANAN – Media-media Ibrani memberitakan kunjungan rahasia Kepala Shin Bet, Ronen Bar ke Turki untuk bertemu Kepala Badan Intelijen negara tersebut, Ibrahim Qalin.
Dikutip al-Alam dari situs Walla, Bar pada hari Sabtu 16 November lalu secara diam-diam menemui Qalin untuk membicarakan kesepakatan pertukaran tawanan dengan Hamas.
Menurut laporan harian Maariv, meski ada sejumlah “ketegangan” antara Pemerintah Ankara dan Tel Aviv, Kepala Shin Bet dalam beberapa hari terakhir berusaha memprovokasi pihak Turki untuk melawan Hamas. Maariv mengeklaim, Turki menjamu banyak pimpinan senior Hamas dan memiliki banyak pengaruh atas faksi Perlawanan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, para pimpinan Rezim Zionis mengeklaim bahwa beberapa pejabat tinggi Hamas, termasuk negosiator seniornya, Khalil al-Hayyah, telah meninggalkan Qatar dan pergi ke Turki.
Stasiun televisi KAN sebelum ini berspekulasi tentang keberadaan sejumlah pimpinan Hamas di Turki. Namun sumber-sumber Israel mengatakan kepada Jerusalem Post, Turki tidak bisa menjadi mediator kesepakatan pertukaran tawanan di Gaza.
“Saya tidak mengetahui intervensi Turki. Namun Qatar bersama Mesir adalah mediator utama untuk mencapai kesepakatan pembebasan para tawanan yang masih tersisa. AS juga terlibat dalam masalah ini,” kata sumber Jerusalem Post.
Di sisi lain, pemimpin kubu oposisi Israel, Yair Lapid, kembali mengkritik Benyamin Netanyahu. Pada Senin kemarin, Lapid berkata bahwa “Perdana Menteri tidak tahu bahwa tugas utama dan terpentingnya adalah memulangkan para tawanan dari Gaza.”
“Badan-badan Keamanan telah memberikan masukan soal peluang mewujudkan kesepakatan. Namun Netanyahu mengabaikannya lantaran motif-motif politis,” imbuh Lapid.
Harian Yedioth Ahronoth memberitakan, para pimpinan Badan-badan Keamanan Israel menyampaikan saran kepada PM Benyamin Netanyahu. Mereka menyarankannya agar menunjukkan sikap lebih lunak dan mengubah pendiriannya soal pemulangan para tawanan Israel. Sebab, kata mereka, Hamas tidak akan puas kecuali jika Israel mengakhiri perang dan mundur dari Gaza.
