Hamas: Netanyahu Penjahat Perang yang Menyeret Kawasan ke Jurang Kehancuran
POROS PERLAWANAN — Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras pernyataan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu mengenai gencatan senjata sementara, menyebutnya sebagai taktik menyesatkan yang memperdalam penderitaan warga Gaza dan merusak peluang perdamaian.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh Kantor Berita Samanews Palestina pada Kamis 22 Mei, Hamas menyatakan bahwa Netanyahu adalah “penjahat perang haus darah dan genosida” yang telah menyeret seluruh Kawasan ke ambang kehancuran demi ambisi politik pribadinya.
Kritik terhadap Pernyataan Gencatan Senjata Netanyahu
Hamas menanggapi langsung pernyataan Netanyahu yang menyebut bahwa gencatan senjata sementara dapat diikuti dengan dimulainya kembali operasi militer. Hamas menyebut pernyataan tersebut sebagai bukti bahwa Tel Aviv tidak berniat serius menyelesaikan konflik atau mencapai pembebasan tahanan secara adil melalui negosiasi.
“Netanyahu secara terbuka membongkar bahwa gencatan senjata hanyalah jeda sementara dalam strategi yang lebih besar: penghancuran total Gaza,” bunyi pernyataan Hamas.
Kekhawatiran Akan Rencana Pemindahan Paksa
Lebih lanjut, Hamas memperingatkan bahwa tujuan perang Israel tidak hanya militer, tetapi juga termasuk pelaksanaan “rencana pemindahan paksa” yang disamakan dengan apa yang mereka sebut sebagai “rencana Trump”.
Hamas menegaskan bahwa pemindahan paksa di bawah tekanan genosida adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan menyerukan Amerika Serikat untuk menjelaskan posisinya, mengingat Washington masih memainkan peran sebagai mediator dalam konflik ini.
Tuntutan kepada Masyarakat Internasional
Dalam pernyataan tersebut, Hamas menyerukan kepada masyarakat internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia untuk segera bertindak menghentikan kekejaman yang dilakukan terhadap warga sipil di Gaza. Mereka juga mendesak agar Netanyahu diadili di pengadilan internasional atas tuduhan genosida, pemindahan paksa, dan kelaparan yang disengaja.
“Netanyahu harus diadili sebagai penjahat perang. Dunia tidak bisa terus diam melihat genosida ini,” tegas Hamas.
Sejak meletusnya perang pada Oktober 2023, lebih dari 35.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Blokade total terhadap Jalur Gaza telah menciptakan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memicu seruan global untuk penghentian kekerasan dan dimulainya kembali jalur diplomatik yang adil dan berkelanjutan.
Pernyataan terbaru dari Hamas menyoroti kedalaman krisis politik dan kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza. Dengan saling tuduh antara pihak-pihak yang terlibat dan minimnya kemajuan dalam negosiasi gencatan senjata yang stabil, tekanan terhadap komunitas internasional untuk bertindak semakin meningkat.
