Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Pertemuan Menegangkan di Gedung Putih: Trump Serang Ramaphosa dengan Tudingan Tak Berdasar

POROS PERLAWANAN — Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa di Gedung Putih berubah menjadi ajang konfrontasi, ketika Trump melontarkan serangkaian tudingan tidak berdasar tentang “genosida kulit putih” dan “perampasan tanah” di Afrika Selatan.

Pernyataan Kontroversial dan Atmosfer Tegang

Menurut laporan Reuters pada Kamis 22 Mei, pertemuan yang seharusnya menjadi momentum perbaikan hubungan bilateral itu justru diwarnai ketegangan tinggi. Trump memulai dengan menyampaikan kekhawatiran yang bersumber dari teori konspirasi sayap kanan, menyatakan bahwa warga kulit putih di Afrika Selatan menjadi korban kekerasan sistematis dan bahwa tanah mereka disita secara ilegal oleh negara.

Dalam suasana yang tegang di Ruang Oval, Trump bahkan memutar cuplikan video yang menampilkan simbol salib putih yang ia klaim sebagai lambang kuburan petani kulit putih korban kekerasan, dan menyampaikan bahwa “orang-orang meninggalkan Afrika Selatan demi keselamatan mereka sendiri”.

Trump didampingi Elon Musk, miliarder kelahiran Afrika Selatan yang telah lama menjadi tokoh kontroversial dalam diskursus politik Amerika. Kehadiran Musk tampaknya dimaksudkan sebagai bentuk dukungan terhadap narasi yang diusung Trump.

Namun, data resmi dari Kepolisian Afrika Selatan menunjukkan bahwa dari total 26.232 kasus pembunuhan pada 2024, hanya 44 yang terkait dengan komunitas pertanian, dan 8 di antaranya adalah petani. Statistik ini tidak menunjukkan adanya pola sistematis seperti yang dinyatakan Trump.

Ramaphosa Tetap Tenang dan Membantah Tegas

Presiden Ramaphosa menanggapi pernyataan tersebut dengan tenang namun tegas. Ia menolak tuduhan adanya genosida terhadap warga kulit putih, dan menyebut bahwa kehadiran tokoh-tokoh kulit putih ternama asal Afrika Selatan seperti pegolf Ernie Els dan Retief Goosen, serta miliarder Johan Rupert, menunjukkan bahwa komunitas kulit putih tidak sedang dalam ancaman eksistensial.

“Jika terjadi genosida terhadap petani Afrika, saya berani mengatakan ketiganya tidak akan berada di sini saat ini,” ujar Ramaphosa, disambut dengan tatapan tidak puas dari Trump.

Afrika Selatan memang telah meloloskan undang-undang kontroversial yang memungkinkan pengambilalihan tanah tanpa kompensasi, namun Pemerintah menekankan bahwa kebijakan tersebut bertujuan mengatasi ketimpangan sejarah akibat kolonialisme dan apartheid, bukan untuk menargetkan kelompok etnis tertentu.

Hubungan Bilateral yang Memburuk

Pertemuan ini memperdalam jurang perbedaan antara kedua negara. Trump sebelumnya telah membatalkan bantuan keuangan penting untuk Afrika Selatan, mengusir Duta Besar negara itu, serta secara terbuka mengecam gugatan Afrika Selatan terhadap Israel atas tuduhan genosida di Mahkamah Internasional.

Afrika Selatan, di bawah kepemimpinan Ramaphosa, telah menjadi salah satu negara yang paling vokal dalam mengecam kebijakan Israel terhadap Palestina, dan menjadi penggugat utama dalam kasus hukum internasional yang menuduh Israel melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Trump, yang tampak tidak senang dengan langkah tersebut, menyatakan bahwa ia “tidak percaya gugatan itu akan berlanjut ke mana pun”, meremehkan langkah diplomatik Afrika Selatan yang didukung sejumlah negara Global Selatan.

Konsekuensi Diplomatik yang Lebih Luas

Pertemuan ini mengindikasikan keretakan yang semakin dalam antara Amerika Serikat dan negara-negara Afrika yang mulai menunjukkan keberanian dalam menentang kebijakan luar negeri Washington dan Tel Aviv. Isu hak asasi manusia, redistribusi tanah, dan kemerdekaan Palestina telah menjadi titik api dalam hubungan diplomatik ini.

Trump, yang kini kembali menjabat dalam periode kedua, tampaknya masih mengandalkan retorika lama yang berbasis teori konspirasi dan populisme sayap kanan. Namun, gaya diplomatik ini menuai kecaman, tidak hanya di Afrika, tetapi juga dari kalangan internasional yang semakin tidak nyaman dengan sikap konfrontatif Gedung Putih.

Alih-alih mempererat hubungan strategis dengan Afrika Selatan, Trump justru memperdalam ketegangan dengan menyampaikan pernyataan palsu dan menyerang mitra internasional di depan publik. Presiden Ramaphosa, meski mendapat tekanan di Gedung Putih, tetap menunjukkan ketegasan diplomatik dalam membela negaranya dari tuduhan yang tidak berdasar.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *