Hambat dan Tekan Aksi Solidaritas untuk Gaza, Mesir Tahan Lebih dari 200 Aktivis Kemanusiaan Lintas Negara
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, pihak berwenang Mesir telah menahan lebih dari 200 aktivis internasional pro-Palestina menjelang dimulainya Global March to Gaza, sebuah pawai solidaritas yang bertujuan mengecam blokade Israel terhadap Jalur Gaza dan mendesak akses kemanusiaan yang lebih luas ke wilayah tersebut.
Menurut Juru Bicara acara tersebut, Saif Abukeshek, aktivis dari lebih dari 40 negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Australia, Maroko, Aljazair, dan Belanda, menghadapi tindakan keras di bandara-bandara serta hotel-hotel di Kairo. Banyak dari mereka diinterogasi, ponselnya disita, dan barang-barangnya digeledah oleh petugas berpakaian preman yang membawa daftar nama peserta.
Beberapa aktivis dibebaskan setelah pemeriksaan, sementara lainnya ditahan berjam-jam tanpa alasan jelas, bahkan dideportasi. Di Bandara Internasional Kairo, lebih dari 20 warga negara Prancis ditahan hingga 18 jam. Seorang warga Jerman melaporkan bahwa ia ditahan bersama 30–40 orang lainnya, dengan bantuan konsuler menjadi satu-satunya harapan untuk pembebasan.
Delegasi dari Yunani juga menyatakan bahwa puluhan warganya ditahan, meskipun kemudian dibebaskan setelah 10 jam. Sementara itu, sebuah video yang beredar menunjukkan puluhan aktivis di pesawat deportasi dari Kairo meneriakkan dukungan untuk Gaza dalam bahasa Prancis.
Aksi solidaritas ini direncanakan akan dimulai Jumat, dengan rute pawai melintasi Semenanjung Sinai menuju perbatasan Rafah, di mana para peserta berencana berjalan kaki sejauh 50 kilometer dari al-Arish dan berkemah di dekat perbatasan sebelum kembali ke Kairo pada 19 Juni.
Konvoi lain, Soumoud (Keteguhan), juga berangkat dari Tunisia dengan tujuan Gaza melalui Libya dan Mesir. Namun, status perjalanan mereka belum jelas karena wilayah Libya timur dikuasai oleh pasukan pro-Khalifa Haftar yang tidak pasti akan memberi akses.
Di sisi lain, Menteri Keamanan Israel, Israel Katz memerintahkan Militer Israel untuk mencegah konvoi masuk Gaza. Ia menyebut para peserta sebagai “jihadis asing” yang membahayakan stabilitas Kawasan dan menyebarkan ideologi radikal yang menurutnya didukung oleh Iran dan Hamas.
