Hari Ketika Arafat Mendadak Kunjungi Iran dan Saksikan Langsung Pembukaan Kedutaan Resmi Palestina
POROS PERLAWANAN – Di antara sekian banyak tamu yang datang memberi selamat atas kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979, satu nama mencatatkan sejarah: Yasser Arafat. Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) itu adalah tokoh asing pertama yang menginjakkan kaki di Tehran untuk bertemu langsung dengan Imam Khomeini dan menyampaikan penghormatan kepada bangsa Iran atas Revolusi agung yang telah mengguncang tatanan dunia.
Bagi bangsa Palestina yang tertindas, Revolusi Islam bukan sekadar kabar gembira, melainkan isyarat langit akan dimulainya babak baru perjuangan. Dari kamp-kamp pengungsi di Lebanon hingga gang-gang sempit di kota-kota Pendudukan, para pejuang dan rakyat bersuka cita. Senjata-senjata ditembakkan ke udara bukan sebagai ancaman, melainkan pekik kebebasan yang menggema menyambut kemenangan Islam di negeri para Syuhada.
Kunjungan Bersejarah: Tanda Poros Telah Bergeser
Enam hari setelah runtuhnya kekuasaan rezim Syah, tepat pada 18 Februari 1979, Arafat tiba di Teheran dalam sebuah kunjungan mendadak. Ia datang dari Damaskus dan langsung disambut hangat oleh rakyat Iran. Di Bandara Mehrabad, ia menyatakan kepada wartawan: “Iran dan Imam Khomeini telah menunjukkan bahwa umat kita tidak akan pernah menyerah. Rakyat Iran telah memutus rantai yang membelenggu Palestina. Revolusi besar kalian ini adalah jaminan kemenangan kami.”
Ia menambahkan: “Revolusi kalian bagaikan gempa yang mengguncang dunia, membuat Israel dan imperialisme gemetar.”
Ketika ditanya apakah Revolusi tersebut menguatkan perjuangan Palestina, Arafat menjawab tegas: “Tentu. Ini telah mengubah seluruh strategi dan peta politik di Kawasan. Segalanya terbalik.”
Kunjungan itu bukan hanya simbolik. Kunjungan ini menandai perubahan arah kebijakan luar negeri Iran secara menyeluruh, sebagaimana dicatat oleh media internasional seperti The New York Times. Iran yang sebelumnya menjadi pemasok utama minyak bagi rezim Zionis, serta menjalin hubungan intelijen dan ekonomi terselubung dengan Tel Aviv, kini berbalik menjadi pusat Poros Perlawanan. Rezim Syah yang menjual 60% kebutuhan minyak Israel dan membuka kantor perwakilan tidak resmi mereka di Tehran, kini digantikan oleh Republik Islam yang dengan tegas memutus semua hubungan dengan rezim penjajah.
Gedung yang dulunya menjadi sarang spionase Israel di jantung Ibu Kota, kini dipasangi plang baru bertuliskan: “Kedutaan Besar Palestina”. Arafat sendiri hadir dalam peristiwa tersebut, tanda simbolis dari arah baru sejarah.
Pertemuan Dua Poros Sejarah
Dalam pertemuannya dengan Arafat, Imam Khomeini tidak menyampaikan basa-basi diplomatik. Dengan gaya khas pemimpin revolusioner, Imam memperingatkan bahwa nasionalisme Arab yang berhaluan kiri dan ketergantungan pada kekuatan asing hanya akan menyesatkan perjuangan.
“Syah juga menggantungkan harapan pada Amerika, Inggris, China, Israel, dan lainnya. Namun semua itu rapuh. Hanya dukungan Allah yang dapat diandalkan,” tegas Imam.
Beliau menambahkan bahwa Palestina bukan hanya urusan Arab, melainkan juga masalah seluruh umat Islam. Dukungan terhadap Palestina bukan pilihan, tetapi kewajiban keagamaan (syar’i).
Perjuangan itu, lanjut Imam, tidak boleh hanya bersifat politik atau diplomatik, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk perlawanan aktif dan bersenjata terhadap penjajah al-Quds.
Ketika Arafat Menyimpang, Poros Perlawanan Tetap Melangkah
Namun, waktu menguji setiap janji dan prinsip. Hampir satu dekade setelah pertemuan tersebut, pada 1988, Arafat mulai goyah. Di tengah tekanan internasional dan pengkhianatan pemimpin Arab yang tunduk pada AS, Arafat menerima konsep solusi dua negara dan menandatangani Perjanjian Oslo. PLO secara resmi mengakui eksistensi Israel dan meninggalkan jalur perlawanan bersenjata.
Akan tetapi, sejarah tidak berhenti pada Oslo. Justru dari kehancuran perjanjian palsu itulah muncul generasi baru Perlawanan, generasi yang tidak tertipu oleh janji kosong Barat, dan yang menjadikan Revolusi Islam sebagai pijakan strategis dalam perjuangan mereka.
Iran: Pelopor Globalisasi Perlawanan
Iran pasca-Revolusi bukan hanya menjadi penyangga perjuangan Palestina, melainkan juga pelopor globalisasi semangat Perlawanan. Di bawah bimbingan Imam Khomeini, Tehran membentuk jejaring kekuatan Perlawanan di seluruh Kawasan: dari Lebanon, Suriah, dan Irak, hingga Yaman dan Palestina. Bahkan Jumat terakhir di bulan Ramadhan ditetapkan sebagai “Hari Quds Internasional”, sebuah langkah strategis untuk menanamkan isu Palestina ke dalam jantung kesadaran umat Islam sedunia.
Berbeda dari Nasionalisme Arab yang dipermalukan dalam Perang 1967 dan 1973, Poros Perlawanan menunjukkan hasil konkret. Dari kemenangan Hizbullah di Lebanon, hingga ketangguhan pejuang Gaza melawan invasi brutal Israel, arah sejarah telah berbalik. Kini bukan Zionis yang mengguncang dunia Arab, tetapi Perlawanan yang mengguncang jantung Tel Aviv.
Dari Tehran Menuju al-Quds
Hari ketika Arafat menginjakkan kaki di Tehran menjadi batu penjuru sebuah poros sejarah baru. Poros yang tidak tunduk pada tekanan kekuatan dunia, tidak tergoda oleh konferensi damai palsu, dan tidak pernah ragu bahwa satu-satunya jalan menuju pembebasan Palestina adalah jalan perlawanan.
Hari ini, empat dekade setelah kunjungan itu, semangat Imam Khomeini masih hidup dalam setiap peluru yang ditembakkan ke arah penjajah, dalam setiap seruan di Hari Quds, dan dalam setiap hati yang percaya bahwa kemenangan tidak datang dari Barat atau Timur, melainkan dari langit, melalui tangan-tangan para pejuang yang tidak pernah gentar.[]
Diolah dari Tehran Times
