‘No Other Land, No Other Witness’, Israel Tutup Akses Media ke Desa Palestina yang Hancur
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, tentara Pendudukan Israel yang mengenakan penutup wajah menghadang puluhan jurnalis internasional yang hendak meliput situasi di Masafer Yatta, wilayah selatan Tepi Barat yang menjadi simbol perlawanan Palestina dan latar film dokumenter pemenang Oscar, “No Other Land”.
Konvoi yang terdiri dari 20 kendaraan media tersebut dihentikan secara paksa oleh pasukan bersenjata saat menuju desa Khalet al-Daba’a, salah satu desa yang mengalami penghancuran sistematis oleh Militer Israel sejak awal tahun.
Para jurnalis diundang oleh Basel Adra, jurnalis sekaligus penduduk desa yang juga menjadi tokoh utama dalam dokumenter tersebut. Ia ingin dunia melihat langsung kehancuran yang terjadi.
Dalam video yang viral di media sosial, tentara Israel memerintahkan para jurnalis untuk meninggalkan area dalam waktu “10 menit” dengan dalih “gangguan publik”. Namun menurut saksi mata, tak ada kerusuhan atau kekacauan, melainkan hanya para jurnalis dan aktivis yang membawa kamera, pulpen, dan niat untuk melaporkan kebenaran.
Salah satu sutradara “No Other Land”, Yuval Abraham mengatakan dalam pernyataannya, “Para wartawan datang untuk melihat bukti kekerasan pemukim dan kehancuran yang terjadi. Namun seperti biasa, Militer hanya hadir saat ada kamera, bukan saat pemukim membakar rumah.”
Adra, yang rumah keluarganya telah diratakan buldoser beberapa kali, membalas klaim tentara tentang “menjaga ketertiban” dengan emosional: “Ketika pemukim datang menyerang kami, kalian tidak muncul. Ketika mereka bakar mobil, tembak orang, atau lempar batu ke anak-anak kami, kalian diam. Namun ketika jurnalis datang, kalian buru-buru menghentikan kami.”
Organisasi Gerakan Solidaritas Internasional (ISM) melaporkan dua aktivis asing yang turut hadir di desa itu ditangkap tanpa alasan jelas. Salah satunya adalah warga Swedia yang kini telah dideportasi ke luar negeri, Susanne Bjork.
Meski dokumenter “No Other Land” berhasil menggugah hati dunia dan memenangkan Oscar pada Maret 2024, kenyataan di lapangan tetap kelam. Kurang dari sebulan setelah kemenangan itu, salah satu sutradara film tersebut, Hamdan Ballal, diserang oleh pemukim Israel dan kemudian ditangkap oleh pasukan Pendudukan.
Israel bahkan semakin mengintensifkan pendudukan. Pada akhir Mei, rezim Israel mengumumkan akan meresmikan 22 permukiman ilegal baru di Tepi Barat. Sementara itu, warga Palestina di Masafer Yatta terus hidup dalam ketakutan, tanpa perlindungan, tanpa suara, dan tanpa saksi.
