Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Hizbullah: Israel Capai Perbatasan, AS Berupaya Memecah Belah Lebanon

POROS PERLAWANAN – Seorang anggota Dewan Politik Hizbullah Lebanon, Mahmoud Qamati menegaskan bahwa tidak ada satu pun gerakan politik di negara itu yang boleh berpihak pada Rezim Zionis dalam menghadapi bahaya nyata dan eksistensial yang dikenal dengan gagasan “Israel Raya”. Ia juga menyinggung skenario yang mengancam seluruh Kawasan.

Menurut laporan IRNA, pada Senin 10 November, yang mengutip harian Al-Akhbar, Qamati memperingatkan dalam sebuah upacara di Desa Kafr Sala, Lebanon Selatan: “Penghancuran Lebanon bukan pernyataan berlebihan atau teori politik, melainkan ancaman nyata yang telah dirujuk oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu saat berbicara tentang proyek ‘Israel Raya’.”

Qamati menegaskan, “Merupakan hak patriotik kami untuk menentang perintah Amerika kepada Pemerintah Lebanon yang dikeluarkan sejalan dengan kepentingan Rezim Zionis, dan itu adalah hak paling mendasar yang kami miliki.”

Anggota Dewan Politik Hizbullah itu melanjutkan, “Kami telah belajar dari pengalaman Suriah, yang menjalankan perintah Amerika tanpa keberatan. Namun, penyerahan itu tidak mencegah agresi harian Rezim Zionis terhadap negara tersebut, karena di sana tidak ada perlawanan.”

Ia menambahkan, “Masalah yang sebagian orang enggan pahami, atau bahkan terima, adalah bahwa Israel kini telah mencapai perbatasan Irak.”

Mahmoud Qamati juga memperingatkan bahwa perkembangan besar di Kawasan sedang dipaksakan kepada negara-negara di Timur Tengah. Ia menilai bahwa langkah paling minimal yang dapat dilakukan adalah menolak pilihan berbahaya itu, karena ancamannya tidak hanya terhadap Lebanon, tetapi juga terhadap seluruh negara Arab.

Anggota senior Hizbullah tersebut menegaskan, “Ada rencana yang jelas untuk menundukkan Lebanon di bawah kendali Amerika dan Rezim Zionis.”

Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat berupaya melemahkan kekuatan pertahanan, ekonomi, dan bahkan sumber penghidupan Lebanon, karena tujuan akhirnya adalah menciptakan disintegrasi nasional.

Qamati menekankan, “Ketika kami mengatakan tidak akan menyerahkan senjata kami, pernyataan itu, dalam konteks politik dan nasional, merupakan hal paling mendasar yang dapat kami sampaikan dalam menghadapi ancaman eksistensial terhadap seluruh Lebanon.”

Terkait pihak-pihak yang menyebut Gerakan Perlawanan sebagai “paramiliter”, ia menegaskan, “Inilah perlawanan yang sama yang telah mencegah pendudukan penuh Rezim Zionis di Lebanon Selatan.”

Ia menambahkan, “Sayangnya, sebagian orang dengan pandangan politik yang sempit menganggap wilayah geografis yang kecil sebagai keseluruhan negara Lebanon. Padahal, ini bukan persoalan politik sementara, melainkan krisis struktural yang tidak sejalan dengan semangat sejati rakyat Lebanon yang mendambakan keutuhan Tanah Air.”

Mahmoud Qamati menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa memahami permasalahan negara adalah tugas nasional tertinggi dan perwujudan sejati dari semangat koeksistensi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *