Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Laporan SHOR: Rezim al-Jolani Tewaskan 11.000 Warga Suriah Sepanjang 2025

POROS PERLAWANAN – Menurut laporan Kayhan pada Senin 10 November, Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SHOR) mengungkapkan bahwa sejak awal 2025, lebih dari 11.000 orang tewas di Suriah akibat tindakan rezim pimpinan Abu Muhammad al-Jolani. Dari jumlah tersebut, 59 orang dilaporkan meninggal karena penyiksaan di penjara-penjara.

Sementara Turki dan Barat disebut sibuk menutupi citra al-Jolani, sejumlah analis menilai muncul indikasi kuat adanya upaya sistematis untuk “melegitimasi” tokoh kontroversial tersebut di mata internasional.

Upaya Rehabilitasi Citra al-Jolani

Langkah awal dari proses itu terlihat dari kedatangan resmi Ahmed al-Sharaa, nama asli al-Jolani di Amerika Serikat, di mana ia diperkenalkan sebagai “Presiden Sementara Suriah”. Tindakan ini dianggap sebagai upaya mengangkatnya dari status Komandan kelompok Takfiri bersenjata menjadi figur politik resmi.

Tidak berhenti di situ, sebuah video yang menampilkan al-Jolani bermain basket bersama Komandan CENTCOM, Jenderal Brad Cooper dan Komandan Koalisi Internasional Anti-ISIS, Kevin Lambert juga beredar luas di media sosial.

Adegan yang menampilkan keakraban dan hubungan “sportif” itu menimbulkan kritik tajam, karena dianggap sebagai upaya menggambarkan mantan pemimpin kelompok ekstremis itu sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam kerja sama keamanan.

Pada saat yang sama, keputusan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan untuk mencabut penyitaan aset al-Jolani dan keluarganya di Turki semakin memperkuat dugaan adanya proyek rekayasa politik lintas negara. Langkah ini, menurut para pengamat, menandakan bahwa Ankara kini mengambil posisi yang lebih lunak terhadap al-Jolani, jauh berbeda dari pendekatan keras yang diambil di masa lalu.

Para analis berpendapat bahwa seluruh langkah ini merupakan bagian dari strategi bersama AS dan Turki untuk mengubah citra al-Jolani dari mantan pemimpin kelompok teroris Front al-Nusra dan Tahrir al-Sham menjadi aktor politik yang “terkendali”. Tujuannya bukan hanya menghapus masa lalunya, melainkan “memutihkan” rekam jejak teror untuk menyiapkan perannya dalam rekonstruksi politik Suriah utara.

Sebagaimana dikatakan oleh seorang kolumnis Timur Tengah: “Proyek pemurnian teroris ini seperti berusaha membersihkan lumpur dengan lumpur, semakin dicuci, semakin kotor hasilnya.”

Langkah Selanjutnya: Koalisi Anti-ISIS?

Menurut sejumlah laporan, Rezim al-Jolani kini bersiap bergabung dalam koalisi internasional anti-ISIS. Unit keamanan Suriah yang berafiliasi dengannya dilaporkan melakukan operasi bersama Direktorat Intelijen melawan kelompok ISIS di beberapa provinsi.

Dalam pernyataan yang diunggah ke saluran Telegram, Kementerian Pertahanan Suriah menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari upaya domestik untuk melawan terorisme dan “konspirasi yang mengancam keamanan nasional”.

Pada saat yang sama, helikopter koalisi pimpinan AS terlihat berpatroli di sepanjang perbatasan Suriah–Irak, memperkuat dugaan bahwa kerja sama antara kedua pihak telah dimulai.

Namun, muncul pertanyaan besar, dengan rekam jejak kelam al-Jolani sebagai pemimpin teror, seberapa kredibel perannya dalam perang melawan ISIS?

Insiden terbaru memperkuat keraguan itu. Pada Sabtu malam, ledakan besar terjadi di dekat Jembatan Jabala, pinggiran Latakia, tanpa kejelasan penyebab maupun korban. Peristiwa semacam ini sering terjadi di wilayah Suriah barat laut, menandakan lemahnya kendali rezim baru tersebut.

Tidak Semua Negara Barat Setuju

Meski mendapat dukungan dari Washington dan Ankara, tidak semua negara Barat tampak sejalan. Badan Keamanan dan Intelijen Moldova (SIS) baru-baru ini memperbarui daftar teroris internasional dan menambahkan nama Abu Muhammad al-Jolani (Ahmed al-Sharaa) ke dalamnya.

Menurut laporan Sputnik, keputusan tersebut, yang ditandatangani oleh Direktur SIS, Alexandru Mastiata, telah diterbitkan dalam lembaran negara resmi Moldova. Dokumen itu menyebut al-Sharaa sebagai individu yang terlibat dalam “aktivitas teroris dan proliferasi senjata pemusnah massal”.

Laporan Kemanusiaan: 11.000 Korban Jiwa

Sementara itu, laporan terbaru SHOR mengungkap skala kekerasan yang dilakukan oleh Rezim al-Jolani.

“Sejak awal 2025, lebih dari 11.000 orang telah tewas di Suriah, termasuk 8.654 warga sipil,” ujar Direktur SHOR dalam keterangan kepada ISNA.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa 59 tahanan di penjara-penjara yang dikelola Pemerintahan Sementara Suriah tewas akibat penyiksaan selama sepuluh bulan terakhir. Ditemukan pula penguburan massal, penculikan sistematis, dan kematian dalam kondisi tidak manusiawi.

SHOR menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga HAM internasional segera mengambil tindakan untuk menyelidiki kejahatan ini dan mengadili para pelakunya.

“Pemerintahan yang nyaris tak bertahan telah melakukan kejahatan luas terhadap rakyatnya sendiri. Jika diberi kekuasaan penuh, hal itu menimbulkan pertanyaan mengerikan tentang masa depan Suriah,” tegas laporan tersebut.

Kritik dari Amerika Serikat

Reaksi keras juga datang dari jurnalis investigatif Amerika, Laura Loomer, yang menyoroti ironi di balik undangan resmi al-Jolani ke Washington. Dalam unggahan di akun X (Twitter), ia menulis: “Berapa banyak tentara Amerika yang dibunuh al-Jolani? Berapa banyak warga sipil tak berdosa yang dibantai pasukan ISIS di bawah komandonya? Sekarang dia dijadwalkan bertemu Presiden Trump di Gedung Putih, seolah-olah masa lalunya bisa dihapus begitu saja”.

Loomer menambahkan bahwa nama baru al-Jolani, “al-Sharaa”, secara harfiah berarti “melegitimasi”.

“Dari wajah baru hingga nama barunya, semuanya hanyalah permainan untuk menipu publik agar percaya bahwa al-Jolani adalah presiden sah Suriah, bukan pembunuh ISIS yang Pemerintah AS sendiri tetapkan sebagai buronan dengan hadiah 10 juta Dolar untuk penangkapannya”.

Ia menutup komentarnya dengan kalimat tajam: “Seorang teroris tetaplah teroris, meski ia mengenakan jas”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *