Hizbullah Lebanon: Diplomasi Tanpa Kekuasaan Tidak Ada Gunanya
POROS PERLAWANAN — Hizbullah menolak seruan sepihak sejumlah pemerintah untuk segera beralih ke fase kedua gencatan senjata, dengan alasan agresi Israel masih terus berlangsung. Kelompok Perlawanan Lebanon itu menegaskan bahwa diplomasi tanpa fondasi kekuatan tidak memiliki nilai strategis dan tidak akan menghasilkan perlindungan nyata bagi kedaulatan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Ali Fayyad, anggota parlemen Lebanon dari faksi Loyalitas kepada Perlawanan, sebagaimana dikutip surat kabar Al-Akhbar pada Senin (29/12). Fayyad menilai setiap upaya diplomatik atau politik untuk meraih hak-hak nasional akan gagal jika tidak ditopang oleh unsur kekuatan, stabilitas, dan keberlanjutan.
Ia menekankan bahwa negara membutuhkan keseimbangan minimum yang tidak dapat dinegosiasikan. Menurutnya, keseimbangan tersebut menjadi dasar perlindungan kedaulatan serta instrumen untuk mewujudkan kepentingan nasional Lebanon di tengah tekanan eksternal.
Fayyad juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai tindakan kriminal musuh yang terus melampaui resolusi internasional, perjanjian, dan hukum internasional, baik di Lebanon maupun di kawasan. Kondisi tersebut, kata dia, kembali menegaskan legitimasi perlawanan sebagai hak alami untuk membela diri, terutama ketika tidak ada jaminan alternatif yang dapat diandalkan.
Menurut Fayyad, opsi yang ditawarkan sebagian pihak, yakni meninggalkan pendekatan perlawanan, pada dasarnya berarti membiarkan Lebanon tanpa perlindungan dan menyerah pada kehendak musuh, sebuah skenario yang dinilainya akan membawa konsekuensi fatal.
Ia secara khusus menolak tuntutan untuk memasuki “fase kedua” di wilayah utara Sungai Litani River, dengan alasan pasukan Israel masih menduduki sebagian perbatasan selatan sungai tersebut. Selain itu, Israel dinilai terus menghambat pengerahan tentara Lebanon serta melanjutkan serangan dan pembunuhan, sehingga permintaan itu dipandang sebagai upaya memaksakan kepatuhan sepihak yang melampaui ketentuan UN Security Council Resolution 1701.
Menutup pernyataannya, Fayyad menegaskan bahwa kepentingan nasional Lebanon menuntut penguatan persatuan internal dan penolakan terhadap segala bentuk perpecahan. Ia memperingatkan bahwa melemahnya front domestik hanya akan menguntungkan Israel, seraya menyerukan integrasi posisi dan upaya nasional untuk menghadapi pendudukan serta mendorong penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
