Hizbullah: Perang Tidak Akan Berakhir dengan Syarat Ekstrem Israel
POROS PERLAWANAN – Perwakilan senior Hizbullah menegaskan bahwa solusi politik bukan berarti negosiasi langsung dengan musuh. Ia menjelaskan bahwa proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat merupakan dokumen yang memuat komitmen kedua pihak terhadap persyaratan gencatan senjata. Meskipun berupaya menghentikan perang, Hizbullah tetap hadir dengan kekuatan penuh di medan perang dan yakin Israel tidak akan mencapai tujuannya.
Dokumen Usulan Gencatan Senjata
Kunjungan utusan Amerika Serikat, Amos Hochstein ke Beirut baru-baru ini bertujuan membahas proposal gencatan senjata dengan pejabat Lebanon. Menanggapi hal ini, anggota parlemen Lebanon dari Hizbullah, Hassan Fadlallah menjelaskan bahwa dokumen rancangan proposal Amerika Serikat tersebut pada dasarnya adalah kesepakatan yang mengatur komitmen kedua belah pihak, Lebanon dan Israel, untuk melaksanakan gencatan senjata sesuai Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
Dalam wawancara dengan saluran Al-Jadeed, pada Rabu 20 November, Hassan Fadlallah menyatakan bahwa proses ini merupakan negosiasi tidak langsung dengan musuh terkait dokumen komitmen kedua pihak. Ia membandingkannya dengan situasi serupa pada 2006, tetapi menurutnya, kondisi saat ini sangat berbeda.
“Kami menghadapi tanggung jawab nasional untuk mempertimbangkan apa yang ditawarkan kepada Lebanon berdasarkan prinsip kedaulatan negara serta perlindungan tanah dan rakyat kami,” ujarnya.
Komitmen Ganda di Medan dan Meja Politik
Fadlallah menegaskan bahwa Hizbullah menghadapi proses ini dengan serius, sambil tetap aktif di medan perang. Ia juga menyebutkan bahwa Hizbullah telah menyampaikan pandangannya kepada Ketua Parlemen, Nabih Berri. Namun, ia menilai tidak tepat untuk membahas detail dokumen tersebut secara terbuka saat ini.
“Perlawanan harus tetap waspada dan berhati-hati baik di tingkat militer maupun politik. Semua pernyataan Nabih Berri selalu jelas dan terukur, serta kami menciptakan setiap peluang yang memungkinkan. Kami berharap upaya ini dapat membawa hasil yang positif,” tambahnya.
Dukungan terhadap Perlawanan Palestina
Fadlallah juga menyoroti peran signifikan Hizbullah dalam mendukung Perlawanan Palestina. “Dukungan dari Perlawanan Lebanon telah secara substansial memperkuat Perlawanan Palestina,” katanya, seraya mengingatkan bahwa sejak 17 September, Hizbullah memasuki fase baru dalam menghadapi agresi musuh, dengan tantangan khusus yang harus dihadapi.
Ia menegaskan kembali bahwa solusi politik tidak berarti negosiasi langsung dengan musuh, melainkan menyangkut komitmen bersama. “Kami menghadapi front Lebanon sebagai bagian dari perang yang berbeda. Kami tegaskan, perang ini tidak akan berakhir dengan menerima syarat-syarat ekstrem musuh.”
Kesetiaan Rakyat terhadap Perlawanan
Di akhir pernyataannya, Fadlallah menyoroti pentingnya dialog internal di Lebanon selama perang maupun setelahnya. Ia juga menyatakan bahwa dukungan rakyat terhadap Perlawanan, khususnya di wilayah selatan Lebanon, saat ini lebih kuat daripada sebelumnya.
