Inspektur Vijay dan Anatomi Damai Tanpa Otak
POROS PERLAWANAN – Inspektur Vijay membaca berita tentang serangan barbar ke Venezuela pada Jumat pagi (3/1/26) seperti membaca hasil laboratorium. Tidak ada keterkejutan, tidak ada ilusi. Nama Donald Trump muncul kembali, kali ini dibungkus slogan damai, dikirim bersama ancaman, dan dihias dengan pita patriotisme.
“Menarik,” katanya pelan. “Menyerang Venezuela demi menguasai minyaknya, lalu mengklaim telah menculik presiden beserta istrinya dan membawanya ke Amerika.”
Vijay menarik napas panjang. Orang gila itu, sejak menjabat hingga kini, telah memicu tujuh perang, namun masih dengan percaya diri mengaku sebagai pencinta damai.
Di dalam negerinya sendiri, sambutan nyaris tidak ada. Dukungan publik rapuh, terfragmentasi, dan terus menyusut. Bahkan sebagian yang dulu mengangkatnya kini lebih memilih menatap lantai, seolah memastikan jarak aman antara pilihan politik dan tanggung jawab moral. Demokrasi, pikir Vijay, memang memberi suara, tetapi tidak pernah menjamin kebijaksanaan.
Vijay membalik halaman. Protes, kritik, dan penolakan. Akademisi, analis kebijakan, mantan pejabat, hingga perwira militer menyampaikan kesimpulan yang sama dengan bahasa berbeda. Langkah-langkah ini tidak strategis, tidak sah, dan tidak cerdas. “Ketika semua disiplin ilmu sepakat,” ujar Vijay, “itu bukan konspirasi. Itu diagnosis.”
Di luar negeri, suasananya bahkan lebih dingin. Tidak ada karpet merah, hanya alis terangkat. Tidak ada aplaus, hanya pernyataan resmi bernada kaku. Pemerintah-pemerintah berbicara tentang hukum internasional, pelanggaran kedaulatan, dan preseden berbahaya. Bahasa diplomatik memang terdengar sopan, tetapi maknanya jelas dan tajam. Kami tidak percaya padamu, Donald Trump.
Sejumlah besar pakar, analis, serta pejabat politik dan militer Amerika juga meyakini bahwa serangan ke Venezuela merupakan paku terakhir pada peti mati Trump yang tengah dipersiapkan.
Venezuela pada Jumat kembali menjadi cermin. Jalanan dipenuhi warga yang menolak didikte, bukan karena negara mereka sempurna, melainkan karena ancaman dari luar jarang datang membawa niat baik, apalagi invasi dan serangan. Inspektur Vijay mencatatnya singkat. “Kalau begitu, kita hanya tinggal menunggu paku terakhirnya.”
Vijay berhenti pada satu kesimpulan yang berulang dalam laporan-laporan tersebut, yaitu isolasi. “Ironi paling sunyi,” katanya, “adalah ketika seseorang berhasil menyatukan banyak pihak dalam satu hal yang sama, yaitu ketidaksukaan.” Di dalam negeri ia ditentang, di luar negeri ia dicurigai. Sekutu menjaga jarak. Lawan tidak lagi terkejut.
Inspektur Vijay menutup map. “Kekuasaan,” ujarnya, “dapat memaksa kepatuhan, tetapi tidak pernah bisa memerintah rasa hormat.” Vijay menatap jendela, ke arah kota yang terus bergerak tanpa menunggu pidato siapa pun. “Dan ketika seorang pemimpin kehilangan keduanya, kepercayaan di dalam negeri dan penerimaan di luar, yang tersisa hanyalah suaranya sendiri, bergema di ruang kosong.”
Vijay merapikan jasnya, lalu bersiap meninggalkan ruangan. “Dalam penyelidikan,” katanya menutup pembicaraan, “kesabaran adalah syarat mutlak. Pernah ada peluru ditembakkan tepat ke kepala salah satu orang gila ini, dan dia tetap hidup. Para dokter ditanya mengapa. Jawab mereka sederhana, pelurunya masih mencari otaknya. Sampai sekarang belum juga ketemu.”
