Iran Bantah Laporan Palsu New York Times Soal ‘Kontak Intelijen dengan CIA untuk Akhiri Perang’
POROS PERLAWANAN — Sumber di Kementerian Intelijen Iran membantah laporan media Amerika Serikat yang menyebut adanya komunikasi antara aparat intelijen Iran dan CIA untuk mengakhiri perang. Laporan tersebut disebut tidak benar dan bagian dari operasi psikologis di tengah konflik.
Kepada Tasnim News Agency pada Rabu malam 4 Maret, sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menolak laporan The New York Times yang menyebut personel Kementerian Intelijen Iran telah menyatakan kesiapan berdialog dengan CIA guna mengakhiri perang.
“Laporan New York Times sepenuhnya palsu dan merupakan bagian dari operasi psikologis di tengah perang,” kata sumber tersebut.
Sumber tersebut juga menegaskan sikap Iran dalam menghadapi musuh.
“Iran tidak memiliki keraguan untuk terus memberikan hukuman berulang kepada musuh. Produksi berita semacam ini lebih mencerminkan meningkatnya rasa ketidakmampuan Amerika Serikat di bidang militer,” kata sumber tersebut.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya perang narasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik Kawasan.
Di tengah eskalasi ketegangan tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, juga menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan Washington. Melalui unggahan di platform X pada Rabu 4 Maret, Larijani menyatakan lebih dari 500 tentara Amerika Serikat tewas dalam beberapa hari terakhir akibat konflik yang sedang berlangsung.
“Tuan Trump, dengan mengikuti aksi badut Netanyahu, telah menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tidak adil melawan Iran”, tulis Larijani.
Larijani juga menyinggung slogan politik “America First” yang selama ini menjadi identitas kampanye Presiden AS, Donald Trump. Menurutnya, meningkatnya korban di pihak Militer Amerika menimbulkan pertanyaan mengenai arah prioritas kebijakan Washington.
“Sekarang hitunglah kembali, apakah dengan lebih dari 500 tentara Amerika yang tewas dalam beberapa hari terakhir masih yang utama adalah ‘America First’ atau justru ‘Israel First’?”, tulisnya.
Larijani turut memperingatkan konflik belum mencapai titik akhir dan berpotensi memicu konsekuensi lebih luas.
“Perkara ini masih berlanjut. Kesyahidan Imam Khamenei akan membawa konsekuensi yang sangat berat bagi kalian, insya Allah”, tulis Larijani.
