Iran Capai Prestasi Strategis di Bidang Energi Nuklir
POROS PERLAWANAN— Iran telah mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi nuklir damai, khususnya di sektor kesehatan, pertanian, dan industri berbasis pengetahuan. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref menyatakan Organisasi Energi Atom Iran (OEAI) tidak lagi terbatas pada produksi listrik, tetapi telah memperluas pemanfaatan teknologi nuklir ke berbagai sektor strategis, termasuk kedokteran dan pengembangan radiofarmasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Aref saat menghadiri peluncuran capaian terbaru OEAI dalam rangka Pekan Penelitian di Teheran, pada Senin 14 Desember, sebagaimana dikutip harian Kayhan. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan energi nuklir di Iran telah menghasilkan “prestasi berharga”, terutama dalam layanan kesehatan, dengan puluhan radiofarmasi kini diproduksi di dalam negeri.
Aref menyebutkan bahwa hingga saat ini Iran telah memproduksi 70 jenis radiofarmasi yang digunakan untuk diagnosis dan pengobatan berbagai penyakit, termasuk kanker. Menurutnya, produk-produk tersebut telah membantu pasien yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses pengobatan. Ia juga menekankan bahwa pencapaian ini bertumpu pada kualitas sumber daya manusia Iran yang terdidik dan termotivasi.
Dalam pidatonya, Aref menyoroti peran perusahaan berbasis pengetahuan Iran yang dinilainya telah mampu bersaing di tingkat global. Ia mengatakan strategi pengembangan perusahaan berbasis pengetahuan, yang diadopsi pasca-Revolusi Islam, kini membuahkan hasil dengan munculnya ilmuwan dan inovator kelas dunia.
“Dokumen visi 20 tahun Iran menargetkan posisi terdepan di Kawasan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan target itu disusun berdasarkan kapasitas ilmiah nasional,” ujarnya.
Aref juga menyinggung pemanfaatan teknologi nuklir di sektor pertanian, khususnya untuk mengurangi pemborosan hasil panen yang diperkirakan mencapai 30 persen. Ia mengatakan Institut Penelitian Sains dan Teknologi Nuklir di bawah OEAI telah mengambil langkah untuk menekan tingkat pemborosan, meningkatkan kualitas produk, serta menstabilkan harga pangan.
Sementara itu, Kepala OEAI, Mohammad Eslami menyatakan organisasinya terus mempercepat siklus inovasi dari riset hingga produksi. Dalam sambutannya pada acara yang sama, Eslami mengungkapkan bahwa selain 70 radiofarmasi yang telah diproduksi, terdapat 20 radiofarmasi lain yang saat ini masih berada dalam tahap penelitian. Ia juga menyebutkan kerja sama aktif OEAI dengan lebih dari 45 universitas di Iran, termasuk penandatanganan nota kesepahaman baru dengan Universitas Sabzevar.
Di sisi teknis, Wakil Direktur Institut Penelitian Sains dan Teknologi Nuklir, Ali Samani memaparkan empat capaian radiofarmasi yang dipamerkan tahun ini. Salah satunya adalah radiofarmasi berbasis gallium-68 dan lutetium-177 yang ditujukan untuk diagnosis dan terapi melanoma ganas. Samani menyebutkan bahwa sebagian produk tersebut masih berada pada tahap uji klinis dan belum diumumkan secara resmi di tingkat global.
Selain radiofarmasi, OEAI juga memperkenalkan mesin produksi radiofarmasi otomatis penuh yang dirancang untuk memproduksi senyawa dengan waktu paruh sangat singkat. Samani menilai otomatisasi menjadi langkah krusial untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan produksi. OEAI juga meluncurkan Sistem Jaringan Pendidikan Nuklir Nasional sebagai infrastruktur pengembangan pendidikan ilmu nuklir di Iran.
Peluncuran capaian nuklir ini berlangsung bersamaan dengan Pameran Peralatan Pengujian dan Material Tingkat Lanjut (Made in Iran) ke-13 yang digelar di Pusat Pameran Internasional Teheran pada 12–15 Desember. Pameran tersebut diikuti sekitar 270 perusahaan domestik dengan lebih dari 9.000 produk di berbagai sektor, mulai dari minyak dan gas, pertanian, teknologi medis, hingga peralatan laboratorium dan teknologi strategis, sebagaimana dilaporkan kantor berita ISNA.
