Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Iran Kecam Kebohongan CENTCOM Soal Pembantaian Sekolah di Minab: Kejahatan Perang yang Tak Bisa Ditutupi

POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Pemerintah Republik Islam Iran dengan keras mengecam upaya Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang dinilai mencoba membenarkan serangan mematikan terhadap Sekolah Shajarah Tayibah di Kota Minab, sebuah tragedi yang merenggut nyawa lebih dari 170 siswa dan guru.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menegaskan bahwa pernyataan Washington yang menyebut sekolah itu berada di dalam perimeter fasilitas rudal hanyalah “rekayasa tanpa dasar dan kebohongan yang mengerikan”. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform X, sebagai respons atas narasi yang dibangun CENTCOM pascaserangan.

Menurut Baghaei, penargetan terhadap pusat pendidikan yang aktif beroperasi pada jam sekolah merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan militer apa pun yang dapat digunakan untuk membenarkan pemboman terhadap anak-anak dan tenaga pengajar sipil.

“Menyerang sekolah yang dipenuhi siswa adalah kejahatan perang yang jelas,” tegasnya. Ia juga menyebut bahwa upaya untuk mengaburkan status sipil lokasi tersebut melalui dalih teknis tidak akan mampu menyembunyikan fakta sebenarnya di lapangan.

Pemerintah Iran turut menyerukan agar para pejabat dan komandan Militer Amerika Serikat yang terlibat dalam perencanaan maupun pelaksanaan serangan itu segera diadili berdasarkan hukum internasional. Teheran menilai pertanggungjawaban penuh harus ditegakkan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Sementara itu, laporan investigatif yang diterbitkan media Semafor pada awal Maret 2026 mengungkap fakta yang mempermalukan Militer AS. Investigasi tersebut menyatakan bahwa pemboman di Minab bukan dipicu oleh kecerdasan buatan (AI), sebagaimana ramai diperdebatkan dalam wacana perang modern, melainkan akibat kelalaian manusia dalam proses identifikasi target.

Laporan itu menyebut bahwa sistem penargetan Militer AS bergantung pada basis data lama yang disusun jauh sebelum konflik berlangsung. Ribuan analis intelijen disebut menggunakan citra satelit serta berbagai masukan intelijen untuk menentukan sasaran operasi. Namun dalam kasus Minab, perubahan penting di lokasi gagal terdeteksi.

Para analis disebut tidak memperbarui informasi yang menunjukkan keberadaan sekolah aktif di area tersebut. Bahkan data publik yang mengindikasikan fungsi sipil bangunan itu diduga diabaikan atau tidak dimasukkan ke dalam sistem penilaian target.

Akibat kelalaian fatal tersebut, lokasi yang seharusnya dilindungi hukum internasional tetap berada dalam daftar sasaran serangan. Kesalahan itu akhirnya berubah menjadi tragedi berdarah yang menewaskan ratusan warga sipil, sebagian besar merupakan anak-anak perempuan dan tenaga pengajar.

Sejumlah pihak yang memahami mekanisme intelijen AS mengatakan bahwa insiden Minab mencerminkan krisis yang lebih luas dalam sistem perang modern Washington. Ketergantungan pada analisis manusia dalam menghadapi arus data besar dianggap membuat proses identifikasi target rentan terhadap kegagalan mematikan.

Ironisnya, beberapa mantan pejabat Militer AS justru mengakui bahwa sistem AI kemungkinan mampu mendeteksi keberadaan sekolah tersebut lebih cepat dibanding prosedur manual yang digunakan Pentagon.

Mantan pejabat senior Militer AS sekaligus pendiri program AI Pentagon Project Maven, Jack Shanahan mengatakan bahwa perang masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan menemukan keseimbangan antara manusia dan mesin dalam proses pengambilan keputusan militer.

Namun bagi Iran, tragedi Minab bukan sekadar persoalan teknis atau kegagalan sistem. Serangan itu dipandang sebagai simbol brutalitas kebijakan Militer AS yang terus mengorbankan warga sipil sembari mencari pembenaran lewat propaganda dan manipulasi informasi.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *