Iran Kritik Trump Usai Sebut Selat Hormuz sebagai ‘Selat Trump’
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegur Presiden Amerika Serikat, Donald Trump atas penggunaan istilah “Selat Trump” untuk Selat Hormuz. Teheran menilai penyebutan itu keliru dan berpotensi memperuncing ketegangan di jalur energi paling strategis dunia.
Menurut laporan Press TV pada Kamis, Abbas Araghchi melontarkan kritik setelah Presiden AS, Donald Trump mengunggah peta yang menampilkan “Teluk Persia” secara tepat, namun mengganti nama Selat Hormuz dengan istilah yang tidak diakui. Araghchi menilai penggunaan nama historis Teluk Persia sudah benar, tetapi penyebutan Selat Hormuz dengan nama lain merupakan kesalahan yang tidak dapat dibenarkan.
“Presiden AS menggunakan istilah yang benar untuk Teluk Persia, tetapi menyebut Hormuz dengan nama lain adalah kesalahan serius,” ujar Araghchi dalam pernyataannya di media social X pada Kamis 30 April. Pernyataan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Teluk Persia di Iran.
Iran setiap 30 April memperingati kemenangan tahun 1622 atas Portugis yang menandai penguasaan strategis atas Selat Hormuz. Momentum historis tersebut menjadi dasar klaim Iran atas peran sentralnya dalam menjaga keamanan jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur transit utama perdagangan energi global, dengan sebagian besar ekspor minyak dunia melewati perairan ini. Sensitivitas penamaan wilayah tersebut berkaitan erat dengan legitimasi geopolitik dan kontrol atas arus perdagangan internasional.
Iran menegaskan bahwa nama “Teluk Persia” diakui secara internasional, termasuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, Teheran menyebut sebagian institusi Militer AS menggunakan istilah alternatif untuk kepentingan politik dan aliansi regional.
Kontroversi ini muncul di tengah ketegangan yang belum mereda antara Iran dan Amerika Serikat. Konflik meningkat sejak serangan militer pada akhir Februari, yang direspons Iran dengan operasi balasan selama lebih dari 40 hari terhadap target Militer AS dan Israel di Kawasan.
Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Negosiasi di Islamabad berakhir tanpa hasil setelah kedua pihak tidak mencapai titik temu soal tuntutan utama.
Di tengah kebuntuan, Washington melanjutkan blokade laut terhadap Iran. Teheran menilai langkah tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata dan memperbesar risiko eskalasi di kawasan Teluk.
Dengan posisi geografis yang menguasai sisi utara Selat Hormuz, Iran berada pada titik kendali salah satu jalur energi paling vital dunia. Kondisi ini memberi Teheran leverage strategis dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari Barat.
