Loading

Ketik untuk mencari

Iran

IRGC Ancam Hancurkan Kapal Perang AS Jika Serangan Terulang

POROS PERLAWANAN — Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa kapal perang Amerika Serikat akan bernasib sama seperti pangkalan militernya di Kawasan jika Washington kembali melancarkan serangan. Ancaman ini muncul di tengah indikasi rencana baru AS untuk operasi militer terhadap Iran.

Menurut laporan Press TV pada Kamis, Komandan Angkatan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Sayyid Majid Mousavi, menyatakan Iran akan merespons setiap agresi dengan serangan yang “berkepanjangan dan menyakitkan”. Ia merujuk pada kerusakan pangkalan AS dalam konflik sebelumnya sebagai gambaran konsekuensi berikutnya bagi armada laut Amerika.

Peringatan tersebut muncul bersamaan dengan laporan bahwa Presiden AS, Donald Trump menerima pengarahan dari Komando Pusat AS (CENTCOM) tentang opsi serangan baru. Rencana itu disebut mencakup operasi “singkat namun intens” yang menargetkan infrastruktur Iran untuk memecah kebuntuan negosiasi.

Selain itu, terdapat opsi lain yang dipertimbangkan, termasuk penguasaan sebagian Selat Hormuz untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial. Skenario tersebut disebut dapat melibatkan operasi darat, menandai eskalasi signifikan dalam pendekatan militer AS.

Laporan juga menyebut kemungkinan operasi pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi. Sementara itu, Trump sebelumnya mengindikasikan bahwa blokade laut terhadap Iran dinilai lebih efektif dibandingkan serangan udara, meski opsi militer tetap terbuka.

Menanggapi hal itu, Mousavi menegaskan Iran siap memberikan balasan yang meluas, bahkan terhadap operasi yang bersifat terbatas. Ia menyatakan setiap langkah militer AS akan dihadapi dengan eskalasi yang lebih besar dan berdampak luas.

Dalam konflik sebelumnya, Iran melancarkan serangan selama lebih dari 40 hari terhadap target Militer AS dan Israel di Kawasan. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas serangan awal yang menargetkan pejabat tinggi serta infrastruktur militer dan sipil Iran.

Amerika Serikat kemudian mengumumkan gencatan senjata sepihak pada 8 April untuk membuka jalur negosiasi di Islamabad. Namun, perundingan tersebut gagal mencapai kesepakatan, memperpanjang ketegangan antara kedua pihak.

Sebagai langkah lanjutan, Washington menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Kebijakan ini dilaporkan berdampak pada lonjakan harga energi global yang turut menekan ekonomi Amerika dan Eropa.

Sumber keamanan tingkat tinggi Iran dari Markas Khatam al-Anbiya menyatakan kesabaran Teheran terhadap “pembajakan maritim” AS di Laut Oman mulai menipis. Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan segera dibalas dengan langkah “praktis dan belum pernah terjadi sebelumnya”.

Pernyataan serupa disampaikan pejabat tinggi Angkatan Laut IRGC yang mengungkap kesiapan menggunakan kemampuan militer baru, termasuk sistem penargetan cerdas. Teknologi tersebut diklaim mampu melumpuhkan kapal perang besar dalam waktu singkat.

Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Shahram Irani, juga mengisyaratkan penggunaan senjata baru yang disebut “sangat ditakuti” oleh lawan. Ia menyatakan sistem tersebut berada dekat dengan posisi musuh dan dapat segera digunakan jika konflik meningkat.

Pernyataan beruntun dari pejabat Militer Iran mencerminkan peningkatan tensi di kawasan Teluk Persia. Dengan adanya rencana operasi baru dari AS dan respons keras dari Teheran, risiko konfrontasi terbuka kembali meningkat, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Tags: