Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Siap Kirim Nota Protes ke Kuwait Soal Klaim Penembakan Jet Tempur AS

POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan Teheran akan mengirimkan nota protes resmi kepada Kuwait terkait klaim penembakan jatuh tiga jet tempur F-15 milik Amerika Serikat.

Pernyataan itu muncul menyusul pengumuman Militer AS yang menyebut sistem pertahanan udara Kuwait berbasis teknologi Amerika secara tidak sengaja mencegat dan menghancurkan pesawat tempur AS pada Minggu malam. Bagi Teheran, klaim tersebut bukan hanya insiden teknis, melainkan persoalan transparansi dan kredibilitas regional.

Mengutip laporan Press TV pada Selasa 3 Maret, Araghchi mempertanyakan secara terbuka narasi yang berkembang dan menuntut penjelasan resmi dari Pemerintah Kuwait.

Sebelumnya, Pangkalan Pertahanan Udara Khatam Al-Anbiya Iran menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah menembak jatuh jet tempur F-15 buatan AS di dekat perbatasan dengan Kuwait. Insiden tersebut disebut sebagai penembakan pertama jet tempur Amerika dalam hampir tiga dekade.

Dalam wawancara dengan penyiar nasional Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Araghchi menyampaikan bahwa jika klaim intersepsi oleh sistem Kuwait benar, maka muncul pertanyaan mendasar mengenai keberadaan jet-jet tersebut.

“Jika benar pesawat-pesawat itu ditembak jatuh oleh pertahanan Kuwait, maka Kuwait harus menjelaskan apa yang dilakukan pesawat-pesawat itu di sana sejak awal,” ujarnya.

Kredibilitas Militer dan Kontradiksi Regional

Araghchi juga menyoroti ironi strategis apabila sistem pertahanan buatan AS justru menjatuhkan pesawatnya sendiri. Menurutnya, hal tersebut mengikis klaim superioritas teknologi militer Barat yang selama ini dipromosikan sebagai tak tertandingi.

Lebih jauh, ia menyebut insiden itu berpotensi membuka kontradiksi dalam pernyataan sejumlah negara Kawasan yang sebelumnya menegaskan bahwa wilayah mereka tidak digunakan sebagai basis operasi AS terhadap Iran.

Teheran mengemukakan dua skenario: pertama, jet-jet tersebut beroperasi dari wilayah regional meskipun ada bantahan resmi; kedua, pesawat berada di wilayah udara Iran ketika insiden terjadi. Kedua kemungkinan itu dinilai memiliki implikasi diplomatik yang serius.

“Insiden ini menunjukkan bahwa di balik citra kekuatan yang diproyeksikan terdapat kerentanan internal yang nyata,” kata Araghchi.

Ia juga membandingkan peristiwa tersebut dengan kapabilitas sistem rudal Iran, yang menurutnya konsisten mengenai sasaran meski menghadapi beberapa lapisan pertahanan Barat. Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Teheran memandang insiden ini sebagai indikator pergeseran persepsi kekuatan di Kawasan.

Isu Kepemimpinan Spiritual dan Tuduhan Standar Ganda

Dalam pernyataan yang sama, Araghchi turut mengaitkan dinamika geopolitik tersebut dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang menurutnya dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Ia menggambarkan Ayatullah Khamenei sebagai tokoh agama berpengaruh dengan dampak lintas batas politik, serta menyebut gelombang protes di berbagai negara sebagai refleksi solidaritas spiritual umat Islam.

Araghchi juga menyebut Barat menerapkan standar ganda dalam isu hak asasi manusia. Ia merujuk pada laporan mengenai tewasnya 10 demonstran dalam insiden di Pakistan di sekitar konsulat AS saat aksi protes berlangsung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *